Brilliant Legacy Episode 25, 26, 27, 28

Standar

Sinopsis Brilliant Legacy Episode 25

Rapat ke-5 pemegang saham perusahaan Jin Sung.
Suasana di ruang pertemuan itu sangat tegang. Jun Se berjalan memasuki ruangan. Ia memberi hormat pada semua peserta rapat dan duduk di tempat duduknya. Nenek Jang Sook Ja terlihat khawatir sekaligus marah. Ia mengepalkan tangannya di pangkuannya. Park Tae Soo tersenyum menang.

Eun Sung melihat Hwan datang. “Berapa yang kau dapat?” tanyanya, berharap.
Hwan menjawab, “Dua puluh tujuh.”
Eun Sung tersenyum lega. “Jadi totalnya sudah 938!” serunya senang.
Hwan: Apa kita terlambat?
Eun Sung: Voting seharusnya belum dimulai. Ayo, cepat!
Hwan dan Eun Sung naik lift menuju ruang pertemuan.

Di ruang pertemuan, voting akan dimulai. Tiba-tiba pintu terbuka. “Tunggu sebentar!” seru Hwan, membuat semua peserta di ruangan itu menoleh. “Kami adalah perwakilan dari para karyawan Jin Sung. Tolong beri kami sedikit waktu.” ujar Hwan. Ia meneruskan, “Aku memiliki petisi dari 900+ karyawan Jin Sung dan tanda tangan dari 135 pemegang saham.”
Para peserta rapat bingung sejenak. Park Tae Soo mengisyaratkan agar voting segera dimulai. Namun salah seorang peserta berkeberatan. “Mereka adalah wakil dari karyawan kita, lebih baik kita dengarkan dulu apa yang mau mereka sampaikan.” katanya.
Peserta yang lain menyetujui. “Ayo dengarkan! Dengarkan! Ayo kita dengarkan!”
Pemimpin rapat mengangguk tanda setuju.
Hwan dan Eun Sung maju ke depan. Eun Sung menyerahkan berkas pada Hwan.
“938 karyawan, lebih dari 80% pekerja Jin Sung bersedia menolong perusahaan kita dari masalah keuangan.” Hwan mulai menjelaskan. “Mereka telah menyetujui secara tertulis bahwa 30% dari gaji mereka akan dipotong selama 6 bulan.”
Para peserta rapat saling bertukar pandang.
Hwan melanjutkan, “Ini adalah pernyataan penolakan untuk memberhentikan Presiden. Ini mungkin tidak berarti banyak, tapi ini adalah suara hati dari 135 karyawan.”
Eun Sung terkejut melihat Jun Se ada di ruangan itu. Jun Se mengelak dari pandangan Eun Sung.
Hwan: Beberapa karyawan bahkan menunda pernikahan mereka atau mengorbankan uang pensiun mereka. Tolong pertimbangkan suara hati karyawan kita dan pikirkan kembali keputusan kalian untuk memberhentikan Presiden Jang. Presiden Jang adalah presiden yang diinginkan dan dicintai oleh para karyawan. Aku mohon pada kalian.
Para peserta rapat terdiam. Park Tae Soo berteriak, “Ayo kita mulai voting!”
Para peserta rapat memulai voting. Jun Se memandang ayahnya, ragu. Jun Se melihat kertas votingnya yang sudah di-checklist, tanda persetujuan. Ia memandang Eun Sung. Eun Sung melihatnya dengan pandangan cemas. Jun Se terdiam, kemudian meremas kertas voting itu.

Pyo Sung Chul menunggu di luar dengan cemas. Tiba-tiba para peserta rapat keluar. Seluruh peserta membungkuk. “Selamat, Presiden!” seru mereka.
Nenek Jang: Semuanya, terima kasih! Terima kasih!
Pyo Sung Chul: Presiden, selamat!
Nenek Jang berseru senang, “Iya!” lalu berpaling pada Hwan dan Eun Sung. “Kalian berdua menyelamatkan aku!”

Park Tae Soo berteriak marah seraya menggebrak meja, “Bagaimana ini bisa terjadi?!” Ia menatap Jun Se, “Teganya kau menusuk ayahmu dari belakang dan mengkhianati ayahmu sendiri?!”
Jun Se hanya terdiam. Ia menunduk dan berbisik, “Maafkan aku, Ayah.”
Tae Soo menarik kerah baju Jun Se. “Karena seorang gadis, kau mengkhianati ayahmu sendiri!”
Jun Se: Ini bukan karena Eun Sung. Aku malu. Saat aku melihat Hwan dan Eun Sung, aku merasa malu. Walaupun aku merasa aku tidak bisa mengkhianati ayah atau melihat ayah hancur, tapi saat itu aku tahu… bahwa aku.. akan menjadi seseorang yang memalukan seumur hidupku. Aku tidak bisa hidup seperti itu, Ayah.
Tae So: Kau sudah membunuh ayahmu sendiri!
Jun Se menatap ayahnya, sedih, dan berteriak, “Ayah, aku menyelamatkanmu!”
Tae So: Apa?!
Jun Se: Mencampakkan banyak orang yang mencintai nenek… kau sendirilah yang membuat dirimu jatuh, Ayah!

Eun Sung cemas memikirkan Jun Se dan Hwan menyadari kecemasannya. Ketika Nenek Jang dan Hwan sudah pergi, Eun Sung kembali ke ruang pertemuan. Namun ruangan itu sudah gelap dan tidak ada satu orang pun di sana. Ia mencoba menelepon Jun Se, namun ponsel Jun Se tidak aktif.

Para karyawan diberi tahu bahwa Presiden Jang tidak akan berhenti. Mereka senang mendengarnya, hanya Seung Mi yang terlihat sangat terkejut dan tidak senang. Ia langsung menelepon ibunya. Sung Hee mencoba menelepon Tae So, namun ponsel Tae Soo tidak aktif.

Nenek Jang sampai di rumah dan mengobrol bersama Hwan, Jung dan Young Ran. Mereka lega karena Nenek Jang tidak jadi diberhentikan dari jabatan Presiden.
Young Ran: Hwan yang menyelamatkanmu, kan Ibu? Hwan, bagaimana caramu meyakinkan semua karyawan?
Hwan: Aku tidak melakukannya sendiri. Para karyawan cabang kedua dan Go Eun Sung yang punya ide. Semuanya melakukan ini bersama-sama.
Nenek Jang: Para karyawan memberikan hati mereka, Hwan dan Eun Sung yang menyatukannya. Hwan dan Eun Sung sudah melakukan sesuatu yang hebat.
Young Ran: Eun Sung takut tidak bisa menguasai perusahaan, karena itu ia berusaha keras!
Hwan langsung membantah, “Bukan seperti itu!”
Jung menatap Hwan bingung.”Kak, kenapa kau berteriak untuk membela Eun Sung?”
Young Ran sadar dan ikut bertanya, “Benar. Memangnya Eun Sung siapamu?”
Hwan: Apa?
Jung: Bukan itu kan?
Young Ran: Tidak mungkin!
Hwan menjadi salah tingkah dan beranjak dari duduknya. “Nenek, aku keluar dulu sebentar.”
Young Ran: Kemana?
Hwan: Aku mau berterima kasih pada para karyawan cabang kedua. Aku pergi.

Hwan mencoba menelepon Eun Sung, tapi Eun Sung tidak mengangkat teleponnya. Hwan pergi ke cabang kedua dan berterima kasih pada manajer Lee. Manajer Lee membalas, “Kami melakukannya untuk Presiden kami, bukan untuk neneknya Sun Woo Hwan. Tidak ada alasan bagiku untuk menerima ucapan terima kasihmu.”
Hwan tersenyum, “Manajer, apa kau tahu kalau kau tidak perlu berkata tajam kadang-kadang?
Manajer Lee: Ini adalah daya tarikku. Istriku yang bilang.
Hwan tertawa. Soo Jae mendatangi Hwan dan bertanya dimana supervisor. Hwan bingung, “Memangnya dia tidak kemari?”
Soo Jae: Bukankah kalian bersama?

Eun Sung ternyata berada di restoran Jun Se. Ia bertanya pada Hye Ri, “Ini pasti berat bagi kak Jun Se, kan?”
Hye Ri menanggapi, “Apa kau perlu bertanya? Dia menusuk ayahnya sendiri.”
Eun Sung: Ekspresi kakak saat di ruang pertemuan… Aku tidak bisa lupa.
Hye Ri memarahi Eun Sung karena tega kepada Jun Se. Eun Sung tega menolak Jun Se karena laki-laki itu (Hwan). Eun Sung mengelak, “Itu demi kebaikan kak Jun Se sendiri, bukan karena dia.”. Hye Ri kemudian keceplosan menceritakan bahwa Jun Se-lah yang membantunya mendapatkan rumah. Eun Sung terkejut, “Apa?!”

Sung Hee mendatangi Tae Soo yang sedang minum-minum di bar. “Apa yang terjadi?” tanyanya. Tae Soo menceritakan bahwa Jun Se melepaskan hak suaranya.
Sung Hee: Lalu apa yang akan terjadi sekarang?
Tae Soo: Sung Hee, kau tidak ada sangkut pautnya dengan hal ini. Aku akan menanggung hukumannya sendiri. Jangan khawatir.

Jun Se bertemu dengan Seung Mi. Jun Se menuangkan minum untuknya dan berkata, “Seung Mi, kejadian ketika kau mengancamku dengan laporan ayahku… Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.
Seung Mi berkata cemas, “Kau tidak akan mengatakannya pada siapapun, kan?”
Jun Se: Tidak.
Seung Mi: Kenapa kau tidak mengatakannya tadi? Apa karena kau takut aku akan menyerahkannya pada polisi? Apa karena jika Kak Hwan tahu, ia akan memberi tahu Eun Sung?
Jun Se: Kau salah. Tidak ada gunanya berkata apapun. Seung Mi, kau tidak akan melepas dokumen itu dan hati Hwan sudah menjadi milik Eun Sung. Untuk apa aku lebih mempermalukanmu? Apa kau masih bisa bernafas dengan normal? Sebelum kau kehilangan nafasmu, mengapa tidak kau lepaskan saja semua?
Seung Mi: Tentang apa?
Jun Se: Tetap bersikap keras kepala adalah tindakan bodoh. Kau hanya akan menyesalinya.
Seung Mi menangis. “Menyesal… adalah saat kau punya pilihan. Itulah yang akan kau katakan jika kau membuat pilihan yang salah. Jun Se, aku tahu kau berpikir aku bodoh. Aku tahu Eun Sung menganggap aku orang yang menakutkan. Kak Hwan pasti sangat kecewa padaku. Tidak… Dia sudah jauh dariku.. Aku cemas.. dan takut. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bagaimana aku bisa melepaskan semua jika itu bukan sesuatu yang bisa dikatakan? Aku akan tetap seperti ini, tidak melakukan apa-apa. Aku tidak bisa menelepon Kak Hwan ketika aku merindukannya. Aku juga tidak bisa menemuinya. Pasti sangat bagus bila besok aku tidak perlu bangun. Ketika aku bangun, hal pertama yang aku pikirkan adalah.. Kak Hwan.

Eun Sung memikirkan Jun Se. Ia teringat saat-saat bersama Jun Se. Jun Se selalu membantunya saat ia kesulitan. Jun Se selalu ada saat Eun Sung membutuhkannya.

Keesokkan paginya, Jun Se datang ke rumah Nenek Jang untuk minta maaf.
Jun Se: Maafkan aku.
Nenek Jang: Tidak perlu. Membuat keputusan sulit seperti kemarin, aku berterima kasih. Aku tidak bisa membayangkan air mata yang kau teteskan ketika berdiri di persimpangan itu.
Jun Se: Tolong maafkan ayahku, Nek. Walaupun ia bertentangan denganmu, tapi baginya Jin Sung adalah segalanya. Karena itu ia melakukan kesalahan. Tolong izinkan ayahku untuk meninggalkan perusahaan dengan tenang.
Nenek Jang: Park Tae Soo, putramu telah tumbuh dengan sangat baik.

Park Tae Soo sudah menyiapkan surat pengunduran diri dan menyerahkannya pada President Jang. Presiden Jang berkata Jun Se sudah meminta maaf padanya atas nama Tae Soo. Ia meminta Tae Soo mengembalikan uang perusahaan. Ia menyuruh Tae So pergi.

Hwan datang ke restoran dan mencari Eun Sung. Eun Sung tidak terlihat dimana-mana. Ternyata Eun Sung ada di balkon, sedang menelepon Hye Ri. Hwan menyusulnya. Ia mendengar Eun Sung berkata di telepon, “Kak Jun Se tidak bekerja lagi? Keluar lagi? Kemana? Tidak ada yang tahu dia kemana?”
Hwan: Kak Jun Se tidak apa-apa, jangan khawatir.
Eun Sung menoleh.
Hwan: Ia datang ke rumah tadi pagi.
Eun Sung: Dia datang ke rumah tadi pagi? (Eun Sung lalu menutup telepon) Untuk apa kak Jun Se ke rumahmu? Apa ia datang untuk memohon untuk ayahnya?
Hwan: Benar.
Eun Sung hampir menangis: Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?
Hwan: Dia baik-baik saja.
Eun Sung: Nenek dan keluargamu.. Apa mereka memarahinya?
Hwan terlihat kesal karena Eun Sung sangat mencemaskan Jun Se. “Kau menangis?” serunya pada Eun Sung. “Kau menganggapnya apa sampai kau harus menangis untuknya? Apa dia seseorang yang penting untukmu?”
Eun Sung menghapus air matanya. “Jika dia membuat ayahnya dipenjara, itu pasti sangat berat untuknya.”
Hwan: Jika itu berat untuknya, seharusnya Jun Se yang menangis. Kenapa kau menangis? Jangan menangis! Jangan menangis untuk Jun Se di depanku!
Eun Sung: Aku menangis karena hatiku sakit! Jadi kau ingin tahu orang seperti apa dia untukku? Diam-diam dia menyewakan aku rumah, dia membantuku pindah, membuatkan makanan untukku. Ia membuat selebaran untuk Eun Woo dan membantuku menyebarkan selebaran itu. Jika aku sakit, diam-diam dia mengantarkan susu dan memasak untukku. Dia mau mendengarkanku saat aku butuh. Dia selalu ada untukku setiap saat. Ketika semua hal menjadi terlalu melelahkan, dialah yang selalu membantuku tanpa mengeluh. Seseorang seperti dia pada situasi seperti ini… Bagaimana hatiku tidak sakit?
Hwan menjadi murung: Jadi begitu… Dia sangat penting? Nenek ingin kau menemuinya setelah selesai bekerja.
Hwan berjalan pergi. Eun Sung hendak mengejarnya, tapi tidak jadi.
Hwan berhenti berjalan di tangga dan berpikir. “Pindah, selebaran, bahkan mengantar susu? Kenapa dia melakukan banyak hal?” ujarnya pada dirinya sendiri. Kak Jun Se benar-benar…”

Hwan menunggu Eun Sung saat pulang kerja. Ia melihat bangku kosong dan langsung mendudukinya. “Kemari!” katanya pada Eun Sung. Ia berdiri dan memaksa Eun Sung duduk. “Aku sudah melakukan satu.” katanya.
Eun Sung bingung dan hendak berdiri. “Satu? Melakukan apa?”
Hwan menyuruhnya tetap duduk. “Duduk saja!”

Eun Sung berkunjung ke rumah Nenek Jang. Nenek Jang mengatakan penyakitnya makin lama akan makin parah. Ia akan banyak membuat kesalahan dan ingatannya akan memudar. Karena Eun Sung berhasil meningkatkan profit hingga 20%, ia meminta Eun Sung be kantor pusat untuk elajar bagaimana mengatur perusahaan. Tentu saja Young Ran dan Jung tidak setuju, bilang bahwa sebelumnya Eun Sung sudah tahu identitas Nenek. Nenek meminta Eun Sung kembali lagi ke rumah.
Eun Sung: Bisakah kalian mendengarku dulu? Aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak yakin bisa mengatur sebuah perusahaan. Suatu perusahaan bukan hanya tentang uang, tapi juga pengorbanan dan tanggung jawab. Aku tidak mampu. Aku terlalu takut. Aku tidak punya keyakinan bahwa aku bisa hidup sepertimu, Nek. Aku berterima kasih dan aku minta maaf.
Nenek Jang meminta Eun Sung masuk ke ruangannya untuk bicara empat mata. Nenek Jang membujuk Eun Sung. Namun Eun Sung berkata, jika uang, tentu ia akan tidak akan menolak. Tapi kalau perusahaan, ia tidak bisa. Eun Sung berencana untuk mundur dari perusahaan dan ingin bekerja di bidang kuliner. Aku ingin membuat Masakan Campuran Korea.

Seung Mi Berdiri di depan gerbang rumah Hwan. Ia bersembunyi ketika Hwan mengantar Eun Sung keluar. Eun Sung mendapat telepon bahwa Jun Se datang ke restoran dan berniat ke sana. Hwan ingin mengantar Eun Sung, namun Eun Sung menolak. “Tidak usah…” Eun Sung melihat Seung Mi bersembunyi, kemudian berlari pergi meninggalkan Hwan.

Eun Sung menemui Jun Se. “Kenapa kau membuatku khawatir?!” ujar Eun Sung segera setelah ia melihat Jun Se. “Kalau kau ada masalah, kenapa tidak memberi tahu aku? Kau membantuku saat aku merasa letih. Namun saat kau letih, kenapa tidak menghubungiku? Aku juga ingin membantumu. Apa kau sudah makan?”
Jun Se terdiam sejenak, kemudian menatap Eun Sung. “Eun Sung, ini sudah terasa membosankan. Ayo kita berhenti di sini.”
Eun Sung: Apa?
Jun Se: Aku adalah laki-laki yang punya harga diri. Jangan menunjukkan simpatimu.
Eun Sung: Bukankah kau selalu ada saat aku jatuh? Memiliki seseorang di sampingmu saat kau jatuh bisa membuatmu terhibur.
Jun Se: Eun Sung… Hal yang aku lakukan untuk gadis yang kusukai, aku tidak ingin ia menggantinya. Aku melakukannya karena aku menyukaimu. Aku tidak butuh apapun sebagai gantinya.

Eun Sung berniat mengundurkan diri. Ia memberi tahu Manajer Lee. “Tetaplah disini sampai kami menemukan penggantimu.” ujar Manajer Lee.
Hwan meminta uang gajinya dan memberikan 50.00 untuk Eun Sung. “Akan kuberikan sisanya bulan depan.”
Eun Sung: Bulan depan aku sudah tidak disini.
Hwan terkejut. “Apa?!” Ia kemudian menarik Eun Sung ke balkon. “Kau ingin berhenti bekerja? Kenapa?
Eun Sung: Aku belajar tentang masakan dan hal yang lain.
Hwan: Lalu bagaimana dengan kita? Bukankah aku memintamu menunggu? Bukankah aku memintamu untuk tetap disisiku?
Eun Sung: Jika aku menunggu, apa yang akan berubah? Apa kita bisa bersama? Apa kau pikir kita bisa melakukannya?
Hwan: Jangan beri aku alasan. Kau melarikan diri. Apa karena kak Jun Se? Apa yang dilakukan Jun Se, aku akan melakukannya juga! Aku akan membayar semua yang telah Jun Se lakukan untukmu!
Eun Sung: Kak Jun Se bukan satu-satunya orang yang berdiri diantara kita!
Hwan: Aku sudah memberi tahu Seung Mi.
Eun Sung terkejut. “Apa yang kau katakan padanya?”
Hwan: Perasaanku padamu. Aku mengatakan semuanya. Aku ingin memberinya waktu.
Hwan memegang bahu Eun Sung. “Jadi percaya dan tunggu aku!”

Go Pyung Joong makan di restoran. Ia melihat selebaran pencarian Eun Woo yang tertempel di dinding. Ia menjadi sangat terkejut.”Eun Woo… Eun Woo… Bagaimana bisa…”
Ia menelepon Sung Hee dan dan meminta Sung Hee menemuinya.
Pyung Joong: Aku akan mengatakan semuanya. Aku memberi tahumu agar kau bisa bersiap-siap.
Sung Hee: Kau akan mengatakan semuanya?
Pyung Joong menunjukkan selebaran pencarian Eun Woo dan berkata, “Eun Sung… kehilangan Eun Woo.”
Sung Hee mengambil selebaran itu dan melihatnya.
Pyung Joong: Ketika Eun Sung kehilangan Eun Woo, apa dia tidak meneleponmu?
Sung Hee: Tidak. Aku tidak tahu.
Pyung Joong: Tidak, dia pasti meneleponmu.
Sung Hee berteriak, “Tidak! Kubilang ia tidak menelepon!”
Pyung Joong: Eun Woo tidak bisa pulang ke rumah! Ia sedang ada di jalanan!
Sung Hee: Biar aku yang mengurusnya. Biarkan aku… Eun Sung juga sedang mencarinya. Apa yang bisa kau lakukan setelah kau mendapatkan namamu kembali? Mereka akan mengambil segalanya. Aku tidak bisa membantumu lagi.
Pyung Joong: Aku sudah tidak percaya lagi padamu. Kenapa kau menghalangi aku bertemu Eun Sung?
Sung Hee: Jadi, kau memutuskan untuk mengatakan segalanya dan aku harus menyiapkan semua uangku untuk dikembalikan?
Pyung Joong: Apapun yang kau katakan aku tetap akan mengatakan segalanya.
Sung Hee: Siapa yang memulai semua ini? Kaulah yang memulainya!

Eun Woo meminta Hwan membuat ramyun a.k.a mie rebus. Hwan berkata bahwa moodnya sedang buruk karena Spy. Eun Woo bilang, “Kakak menyukai spy.”
Tiba-tiba Seung Mi menelepon dan berkata bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hwan menyuruhnya datang ke bar Young Suk.
Hwan menungu Seung Mi sambil melihat Eun Woo memainkan piano. Eun Woo minta Hwan membelikannya susu cokelat. Hwan dan Eun Woo pergi keluar. Seung Mi terkejut ketika melihat Eun Woo keluar dari bar.

—————————————————————————

Sinopsis Brilliant Legacy Episode 26

Seung Mi sangat terkejut melihat Eun Woo keluar dari bar. Seung Mi hendak memanggil Eun Woo, “Eun Woo…” Namun, ia melihat Hwan berjalan di belakang Eun Woo.
Hwan merangkul pundak Eun Woo. “Kita pergi bersama!”
Eun Woo menunjuk ke arah jalan. “Susu cokelat. Kita harus beli di sana.”
Seung Mi bersembunyi di balik tiang.
Hwan dan Eun Woo masuk ke supermarket dan membeli dua susu cokelat. Hwan melihat susu itu. “Kau cuma mau beli dua?” tanyanya.
Eun Woo: Jika aku minum lebih dari dua, perutku akan sakit. Kalau perutku sakit, aku tidak bisa makan.
Hwan tertawa. “Anak ini pandai.”
Hwan menunggu Seung Mi di bar. Ponsel Hwan bergetar. Ia mengambil ponsel di sakunya dan melihat sms dari Seung Mi. “Kak, maaf. Temanku tidak membiarkan aku pergi, jadi aku tidak bisa bertemu denganmu.”

Eun Sung memutuskan untuk menjual rumahnya dan pindah ke tempat lain. Ia berencana untuk bekerja di sebuah toko pizza. Ia ingin memulai lagi hidupnya dari awal.
Hye Ri: Lalu bagaimana dengan Hwan? Sejak kapan kau menyukainya?
Eun Sung menundukkan kepalanya, dan tersenyum tipis. “Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu kenapa aku begini. Suatu ketika aku sadar, bahwa aku tertawa dan menangis karena dia. Aku bahagia karena dia dan aku terluka karena dia.”

Seung Mi menemui ibunya. “Ibu, aku ingin bertanya, tolong jawab dengan jujur. Apa yang ibu lakukan pada Eun Woo?” tanyanya serius.
Sung Hee: Kenapa tiba-tiba kau menanyakan ini?
Seung Mi: Kemana ibu membawanya setelah ke Daegu?
Sung Hee: Kemana aku membawanya setelah ke Daegu.. Apa maksudmu?
Seung Mi: Apa ibu mengirimnya ke tempat lain?
Sung Hee bingung. “Kau pikir aku tidak punya perasaan? Aku membawa Eun Woo ke Daegu karena tempat itu aman. Aku tahu persis bahwa orang di sana baik. Karena itulah aku mengirimnya ke sana. Kau puas sekarang? Kenapa kau bertanya tentang Eun Woo?”
Seung Mi: Aku melihat Eun Woo.
Sung Hee menoleh dengan terkejut. “Kau melihat Eun Woo? Dimana dia sekarang?”
Seung Mi: Aku bersyukur dia masih sehat.
Sung Hee: Dimana kau melihatnya?
Seung Mi menangis. “Ibu, ayo kita kembalikan Eun Woo pada Eun Sung dan pergi. Aku tidak bisa melihat Eun Woo dibawa ke tempat lain lagi. Tidak, bahkan jika aku mati.”
Sung Hee: Lalu? Kita kembalikan Eun Woo pada Eun Sung dan pergi? Pergi kemana?
Seung Mi: Kemana saja. Kita pergi dari Seoul. Aku tidak bisa memberikan Eun Woo pada orang lain lagi. Aku tidak akan melakukannya. Tidak, sampai aku mati. Jika aku melakukannya, aku pasti jadi gila.
Seung Mi bersikeras mengajak ibunya pergi, namun Sung Hee menolak.

Keesokkan paginya, Seung Mi tidak menemukan ibunya di rumah. Ternyata Sung Hee pergi melihat Eun Woo. Setelah itu, ia mencari Eun Sung dan mengajaknya bicara. Eun Sung berpura-pura tidak melihatnya dan terus berjalan.
Sung Hee: Ini tentang Eun Woo.
Eun Sung berhenti berjalan dan menoleh. “Kau bilang ini tentang Eun Woo. Ada apa?”
Sung Hee: Aku menemukan Eun Woo.
Eun Sung: Apa? Kau menemukan Eun Woo?
Sung Hee: Benar. Aku menyuruh orang untuk mencarinya.
Eun Sung: Kau benar-benar menemukannya?! Dimana? Dimana?
Sung Hee: Aku tidak bisa mengatakannya padamu sekarang.
Eun Sung: Kenapa kau tidak bisa mengatakannya? Apa yang akan kau lakukan sekarang?
Sung Hee: Jika kau berjanji untuk meninggalkan Korea bersama Eun Woo, aku akan mengatakannya padamu. Eun Sung, bawa Eun Woo ke Amerika. Pergilah, dan biarkan Eun Woo belajar tentang piano, dan kau juga bisa melanjutkan kuliahmu.
Eun Sung marah dan berkata keras, “Apa maksudmu? Apa kau benar-benar menemukan Eun Woo?”
Sung Hee tidak mengindahkan kata-katanya. Ia mengeluarkan buku rekening dari tasnya. “Aku akan mengembalikan semua uang ayahmu.Itu cukup untuk melanjutkan kuliahmu.”
Eun Sung: Aku harus melihat Eun Woo dulu. Aku tidak akan mempercayai kata-katamu sampai aku melihat Eun Woo! Kau pikir aku bisa dibodohi lagi?
Sung Hee: Sebelum kau pergi, kau tidak akan bisa melihat Eun Woo.
Eun Sung setuju. “Tepati janjimu. Jika aku tidak melihat Eun Woo, aku akan kembali. Aku tidak akan melepaskanmu.”
Sung Hee: Kita akan bertemu lagi lusa di Bandara Tokyo.
Sung Hee pergi dan menyuruh orang untuk membawa dan mengantarkan Eun Woo padanya lusa jam 8:30.

Eun Sung sedih karena ia harus pergi lusa. Ia mulai mendatangi orang-orang yang disayanginya untuk mengucapkan selamat tinggal secara tidak langsung.
Eun Sung datang untuk menemui Nenek Jang. Ia membelikan Nenek Jang topi.
Eun Sung: Nenek terlihat lebih kurus.
Nenek Jang: Kurus bagaimana? Ibunya Hwan memberiku makanan yang bergizi setiap hari.
Eun Sung berdiri dan memeluk Nenek Jang dari belakang. “Nenekku!”
Nenek Jang: Apa yang kau lakukan?
Eun Sung berkata sedih namun berusaha tetap terdengar ceria, “Nenek, kau harus sehat. Aku sudah tidak bekerja di perusahaan nenek lagi sekarang.”
Nenek Jang: Hubungan seseorang tidak disatukan oleh darah, tapi disatukan oleh hati.
Eun Sung memeluk Nenek Jang sambil menangis. “Aku tahu.” ujar Eun Sung.
Nenek Jang: Tunggu sebentar lagi. Kebenaran akan terungkap dan segalanya akan membaik.
Eun Sung: Ya.
Eun Sung keluar dari ruangan Nenek dan bertemu dengan Hwan. Hwan mengantarnya keluar rumah. “Besok kan hari libur, kau tidak akan melakukan apa-apa, kan? Apa mau main denganku?” ujar Eun Seung ceria.
Hwan melotot, terkejut.

Eun Sung pergi ke restoran Jun Se dan membereskan selebaran-selebaran dan foto Eun Woo yang dipajang di sana. Jun Se terkejut dan bertanya pada Hye Ri. Tiba-tiba Eun Sung keluar dari dalam restoran.
Eun Sung: Kakak… Sebenarnya aku ingin membereskan ini sebelum kau kembali. Maafkan aku. Tidak ada gunanya memasang foto Eun Woo di sana.
Jun Se: Eun Sung, kau kasar sekali.
Eun Sung: Jangan bilang begitu. Aku kan sudah minta maaf. Aku juga sudah bilang terima kasih. Kau tidak boleh terluka karena aku. Aku tidak melakukan ini untuk menyakitimu.
Jun Se: Lalu kenapa kau lakukan ini?
Eun Sung: Kau melakukan semua ini untukku. Jika aku meninggalkan foto-foto itu di sini….
Jun Se: Kau tidak mau memberi tahu alasanmu.
Eun Sung: Kau akan tahu nanti. Aku sangat berharap kakak bisa bahagia, sekarang, di sini.
Eun Sung mencoba tersenyum. Ia berkata dalam hati, “Kakak, jaga diri.”

Eun Sung seperti mencari sesuatu di rumahnya. Hye Ri bertanya, “Apa yang kau cari? Aku akan membersihkan rumah ini.”
Eun Sung: Kurasa aku meletakkan passport-ku disini.
Hye Ri: Passport? Aku menyimpannya bersama passport-ku. Itu, ada di rak atas.
Eun Sung mengambilnya. Eun Sung tersenyum dan berkata pada Hye Ri, “Kapan-kapan… kita harus bertemu dan berlibur bersama.”

Hwa sibuk memilih baju yang akan dipakainya saat berkencan dengan Eun Sung. Eun Sung juga berdandan habis-habisan untuk kencannya itu.
Hwan menunggu Eun Sung. Ia bergumam sendiri, berpikir kenapa Eun Sung datang terlambat. Ia menoleh dan melihat Eun Sung bersembunyi di balik tiang.
Eun Sung tersenyum dan berjalan mendekatinya. Hwan terpesona melihat Eun Sung, namun berlagak cuek.
Hwan: Kenapa kau berjalan angkuh sekali padahal kau datang terlambat? Apa yang kau lakukan? Apa hobbymu bersembunyi?
Eun Sung: Oh… Itu.. Bukan begitu…
Hwan: Lalu kenapa kau bersembunyi?
Eun Sung: Aku hanya ingin datang terlambat 10 menit. Seorang gadis biasanya datang 10 menit lebih lambat dari jam janjian.
Hwan: Siapa yang bilang?
Eun Sung: Teman lamaku saat kelas 3 SMA.
Hwan: Kelas 3 SMA? Jadi kau tidak pernah berkencan lagi sejak kelas 3 SMA?
Eun Sung: Pokoknya, ini kencan pertamaku di Korea, jadi aku ingin melakukan apapun yang dilakukan oleh orang lain.

Hwan dan Eun Sung pergi ke bioskop. Eun Sung membayar tiket bioskop dan Hwan membayar poopcorn, cola dan nachos. Eun Sung ingin menonton film horor. Eun Sung ketakutan melihat salah satu adegan. Ia bersembunyi dan menangis di bahu Hwan. Sebenarnya Eun Sung menangis bukan karena film horornya, tapi karena akan berpisah dengan Hwan.

Setelah menonton, mereka pergi makan di sebuah restoran. Eun Sung menyuapi Hwan makan, begitu pula sebaliknya. Huu,, co cweet..

Hwan dan Eun Sung kemudian berjalan-jalan di kota. Mereka membeli gulali dan melihat atraksi badut. Hwan kesal melihat badut itu memberikan bunga pada Eun Sung.
Hwan menggandeng tangan Eun Sung. Mereka pergi ke tempat penggambar karikatur. Eun Sung meminta Hwan duduk diam agar bisa digambar. Eun Sung menahan tangisnya.
Hwan mengantar Eun Sung pulang. “Kenapa kau ingin melakukan semuanya dalam sehari?” tanya Hwan.
Eun Sung tiba-tiba mendekati Hwan dan berkata ceria, “Haruskah kita berciuman juga?”
Hwan terdiam. Eun Sung tertawa, “Aku hanya bercanda.”
Hwan: Aku juga tidak mau. Kita kan bukan sedang berkencan betulan. Kita hanya mengikuti apa yang orang lain lakukan.
Eun Sung memasang tampang sedih. Hwan buru-buru berkata, “Tapi bukan berarti aku tidak menyukainya. Karena kau yang membuat rencana hari ini, aku akan membuat rencana juga lain waktu.
Eun Sung: Apa yang ingin kau lakukan?
Hwan: Aku tidak akan mengatakannya.
Eun Sung berkata dengan nada bercanda, “Aku tidak bilang aku ingin pergi. Setelah kau mengantarku pulang, semuanya akan berakhir.”
Eun Sung melepaskan gandengan tangan mereka.
Hwan: Sampai bertemu besok.
Eun Sung berkata pelan seraya menangis dan melambai pada Hwan, “Aku akan pergi. Jaga dirimu. Selamat tinggal.”

Nenek Jang mengetahui hal tentang Seung Mi. Tentang ayah Seung Mi dan bahwa ibunya-lah yang memulai segalanya. Seung Mi hanya terjebak di tengah-tengah. Ia memikirkan apa yang akan ia lakukan.

Eun Sung menemui Manajer Lee untuk menyerahkan surat pengunduran diri.

Eun Woo pergi berjalan seorang diri. Orang suruhan Sung Hee mengikutinya. “Go Eun Woo, kakakmu memintaku memberikan ini.” Ia memberikan susu cokelat pada Eun Woo sehingga Eun Woo mau ikut dengannya.

Manajer Lee memberi tahu Hwan bahwa Eun Sung menemuinya tadi malam dan menyerahkan surat pengunduran diri. Hwan menelepon Eun Sung, tapi teleponnya tidak aktif. Hwan mencari Eun Sung di rumahnya, tapi ibu pemilik rumah mengatakan Eun Sung pergi membawa koper besar.
Hwan cemas. Ia menelepon Hye Ri, “Eun Sung pergi kemana?”
Hye Ri bingung. “Apa yang terjadi?” tanyanya. “Apa?! Eun Sung pergi?” Hye Ri teringat saat Eun Sung mencari passportnya.
Hwan: Passport?
Hwan bergegas pergi ke airport.

Eun Woo melarikan diri dari orang suruhan Sung Hee.

Go Pyung Joong menemui Jun Se. Ia menceritakan segalanya tentang dirinya. Mulai dari dia dirampok dan dikira meninggal karena ledakan gas.
Hye Ri menatap Pyung Joong, merasa ia pernah melihat Pyung Joong di suatu tempat.
Jun Se menyadari sesuatu. “Paman, apakau kau bekerja di perusahaan konstruksi?
Pyung Joong: Dari mana kau tahu?
Hye Ri terperanjat dan berteriak, “Ayah!”
Jun Se: Paman, apakah putrimu bernama Eun Sung?
Pyung Joong: Kau mengenal Eun Sung?
Jun Se dan Pyung Joong bergegas pergi ke airport.

Hwan berteriak-teriak di airport memanggil Eun Sung. “Go Eun Sung! Go Eun Sung!”
Eun Sung hendak masuk ke peron. “Eun Sung!” tiba-tiba ia mendengar seseorang memanggil namanya. Eun Sung mencoba menghindari, tapi Hwan menarik tangannya.
Eun Sung: Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!

Jun Se dan Pyung Joong berpencar mencari Eun Sung. Jun Se menemukan Eun Sung terlebih dahulu.
Jun Se: Eun Sung, jangan terkejut dan dengarkan baik-baik. Ayahmu tidak meninggal.
Eun Sung: Apa maksudmu, Kak?
Jun Se: Ayahmu… Ayahmu Go Pyung Joong.. Dia masih hidup.
Eun Sung terkejut, ia tidak bisa berkata apa-apa. Sepertinya masih tidak percaya.
Pyung Joong berlari dan melihat Eun Sung. Eun Sung pun melihat ayahnya.
Pyung Joong: Eun Sung… Ini ayah…
Eun Sung menjatuhkan passportnya. “A… ayah!”

————————————————————————-

Brilliant Legacy Episode 27

Eun Sung sangat terkejut melihat ayahnya. “A… ayah!”
Tiba-tiba Eun terjatuh ke lantai. Pyung Joong berlari ke arahnya. “Eun Sung! Eun Sung!”
Eun Sung melihat ayahnya, masih shock dan belum percaya. “Ayah… Ayah…” Eun Sung meraba wajah ayahnya. “Ini benar ayahku!”
Pyung Joong memeluk putrinya. “Ayah…” Eun terus-menerus memanggil ayahnya sambil menangis.
Eun Sung: Ayah, apa yang terjadi? Jika kau masih hidup, kenapa tidak menghubungiku?
Pyung Joong: Ayo bangun, Eun Sung. Kenapa kau datang ke airport? Apa kau ingin pergi tanpa memberi tahu semua orang?
Eun Sung tiba-tiba teringat Eun Woo. “Eun Woo… Aku datang untuk melihat bertemu Eun Woo.”
Jun Se: Eun Sung, apa maksudmu?
Eun Sung: Orang itu… Ibunya Seung Mi… Dia bilang ia menemukan Eun Woo. Jadi dia ingin aku membawa Eun Woo dan pergi.
Pyung Joong: Eun Woo sudah ditemukan?
Eun Sung mengangguk.

Sung Hee frustasi mencari Eun Woo yang tidak bisa ditemukan dimanapun. “Dia sudah naik pesawat? Tidak. Aku tidak bisa pergi seperti ini.”

Nenek Hwan menerima surat pengunduran diri Eun Sung yang diberikan oleh Manajer Lee. Di lain pihak, ia sudah menerima surat pengunduran diri Seung Mi. Ia curiga bahwa ini semua ada sangkut pautnya.

Eun Sung: Dia bilang, dia akan naik penerbangan selanjutnya dan membawa Eun Woo bersamanya.
Pyung Joong: Kalau dia berkata jujur, dia pasti sudah ada di airport bersama Eun Woo.
Jun Se: Telepon dia. Jangan katakan padanya bahwa kau sudah bertemu ayahmu.
Eun Sung mengaktifkan ponselnya dan menelepon Sung Hee.
Eun Sung: Aku sudah ada di airport. Aku meneleponmu untuk memastikan. Kau dan Eun Woo sudah di airport kan?
Sung Hee: Eun Sung, jangan pergi hari ini. Eun Woo sedang sakit dan kurasa kami tidak bisa pergi.
Eun Sung langsung panik. “Eun Woo sakit? Dimana?”
Sung Hee: Ia terserang flu serius dan tidak bisa pergi hari ini. Kau pulang saja dulu. Aku akan melihat kondisi Eun Woo dan menghubungimu lagi. Dan kau harus menepati janji. Jangan katakan pada orang lain.
Sung Hee menutup telepon. Dia terlihat sangat frustasi.
Pyung Joong mengajak Eun Sung ke rumah Seung Mi. Bukankah aneh jika dia bilang Eun Woo tiba-tiba sakit?
Jung Se: Tapi dia bilang pada Eun Sung jangan pergi hari ini. Mungkin saja Eun Woo benar-benar sakit.
Eun Sung menjadi sangat khawatir. Pyung Joong tetap ingin ke rumah Seung Mi. “Apa kau tahu kemana Seung Mi pindah?” tanya Pyung Joong pada Eun Sung. “Mereka pindah karena takut aku menemui mereka.”
Hwan terlihat shock. Ia teringat percakapannya dengan Seung Mi ketika Seung Mi bilang alasannya pindah adalah menghindari penagih hutang.
Ponsel Eun Sung berbunyi. Nenek Jang-lah yang menelepon.
Nenek Jang: “Kau dimana, Eun Sung?” …. “Apa? Kau bertemu ayahmu?” …. “Apa?!”

Pyung Joong baru menyadari keberadaan Hwan, yang sejak tadi diam saja. “Oh, kau tadi yang bersama Eun Sung.”
Hwan membungkuk memberi hormat pada Pyung Joong, “Namaku Sun Woo Hwan.”
Pyung Joong membungkuk membalasnya. Ia bertanya pada Eun Sung, “Siapa dia?”
Eun Sung: Dia cucu Nenek Jang.

Eun Sung dan yang lainnya pulang dengan naik mobil Jun Se. Pyung Joong menceritakan bahwa mulanya ia percaya saat Sung Hee bilang Eun Sung pergi ke Amerika. Ia juga mendapat email dari Eun Sung yang mengatakan kalau Eun Sung takut uang asuransi akan diambil jika orang-orang tahu ayahmu masih hidup.
Eun Sung: Kau menerima email dengan namaku?
Pyung Joong: Ya. Kami beberapa kali saling mengirim email.
Eun Sung: Siapa yang melakukannya?
Hwan terkejut, namun hanya bisa diam. Eun Sung melihat Hwan sekejap. Sepertinya mereka berdua sudah tahu siapa yang melakukan hal itu.
Eun Sung: Ayah sudah mengenal Kak Jun Se selama ini?
Pyung Joong: President Park memberi aku pekerjaan. Aku berhutang banyak padanya.
Jun Se: Jangan berkata begitu.
Hwan menatap Jun Se.

Eun Woo berjalan sendirian di jalan sambil menyebut nama-nama tempat yang dihafalnya. Sung Hee dan anak buahnya belum bisa menemukan Eun Woo. Stress berat dia.

Jun Se mengantar Eun Sung dan yang lainnya ke rumah Nenek Jang. Eun Sung dan ayahnya masuk ke dalam rumah, namun Hwan berjalan keluar.
Ia berpikir dan teringat kata-kata yang pernah dikatakan Seung Mi padanya. Tentang Eun Sung yang memaksa Seung Mi agar menyembunyikan masa lalu mereka. Atau tentang Seung Mi yang berkata bahwa Eun Sung telah membohongi Hwan.
Hwan mencoba menelepon Seung Mi, namun ponsel Seung Mi tidak aktif. Ia meninggalkan pesan yang menyuruh Seung Mi menemui Hwan di bar.

Nenek Jang dan yang lainnya mendiskusikan suatu rencana untuk membuat Sung Hee tidak bisa berbuat apa-apa. Nenek meminta Young Ran menelepon Sung Hee dan menyuruhnya datang ke rumah.
Sung Hee: Ibumu ingin menemuiku? Kenapa?
Young Ran: Eun Sung menghilang tiba-tiba tanpa memberi tahu siapapun. Mungkin ia ingin menanyakan itu padamu.
Sung Hee merasa tenang. “Begitu… Tapi bagaimana aku tahu?”
Young Ran: Itulah yang kukatakan padanya. Ibu juga ingin membicarakan sesuatu denganmu.

Hwan datang ke bar Young Suk. Young Suk berkata bahwa Young Jae menghilang. Hwan khawatir dan hendak menelepon polisi, namun Young Suk menolak. “Jangan!”
Hwan: Kenapa? Apa yang terjadi?
Young Suk: Sebenarnya… Dia bukan sepupuku.
Hwan: Dia bukan sepupumu?! Lalu siapa dia?!
Young Suk: Dia cuma anak yang kutemukan. Ia menyukai piano, jadi aku berpikir akan membiarkannya pergi setelah bermain di sini. Tapi anak itu tidak mau pergi.
Hwan: Apa?! Kau tidak mengenal anak itu?!
Hwan sangat terkejut. Ia hendak menelepon Eun Sung untuk memberi tahu hal tersebut, namun ia ragu. “Bagaimana jika anak itu bukan Eun Woo?” Ia akhirnya memutuskan untuk mencari Eun Woo.
Hwan berlari menuju ke beberapa tempat kursus piano, namun tidak ada yang melihat Eun Woo.

Sung Hee datang ke rumah Nenek Jang. “Duduklah.” kata Nenek Jang padanya.
Sung Hee: Sepertinya ada suatu hal yang kulakukan sehingga mengganggumu.
Nenek Jang: Benar. Sesuatu yang membuatku sangat tidak nyaman.
Sung Hee: Jika ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, silahkan tanyakan padaku.
Nenek Jang: Aku tidak bisa menanyakannya sendiri padamu.
Nenek Jang memberi isyarat. Eun Sung dan Pyung Joong turun dari lantai atas.
Sung Hee terlonjak kaget.
Young Ran meremas tangan Pyo Sung Chul saking cemasnya. (cie cie..) Namun Sung Chul berusaha melepas genggaman tangannya itu. “Jangan bergerak. Aku menggenggam tanganmu karena aku gemetar.”

Sung Hee gemetar dan terlihat ketakutan.
Nenek Jang: Sepertinya kau penasaran bagaimana ayah dan putri ini bisa bertemu.
Pyung Joong: Dimana Eun Woo?
Nenek Jang: Semua sudah berakhir. Jadi, ayo kita selesaikan ini. Hal yang paling penting saat ini adalah menemukan Eun Woo. Katakan dimana Eun Woo.
Sung Hee: Kenapa aku harus bicara tentang Eun Woo di depan Nenek Hwan?
Pyung Joong: Ayah dan kakak Eun Woo ada di sini. Katakan dimana Eun Woo.
Sung Hee: Aku tidak tahu. Aku hanya ingin Eun Sung pergi.
Eun Sung: Kau bohong!
Pyung Joong: Kau melihat bagaimana aku mencari Eun Sung dan Eun Woo. Bukankah sudah cukup kau mencoba memutus hubungan darah kami? Apa kau berniat membawa Eun Woo pergi lagi?
Sung Hee: Siapa yang memutus hubungan darah kalian? Bagaimana bisa orang yang sudah mati punya hubungan darah?
Pyung Joong: Apa?
Sung Hee: Bukankah kau sudah mati? Kau yang memulai ini. Jika kau tidak berpura-pura mati, aku juga tidak akan memulai ini.
Nenek Jang: Aku tidak bisa mendengarkan ini lagi! Setelah suamimu meninggal, kau mengambil semua uang asuransi dan mengusir anak-anak. Siapa yang melakukan itu?
Sung Hee: Jika kau tidak berada diposisiku, kau tidak bisa bilang itu salah atau benar.
Nenek Jang: Mencampakkan Eun Woo juga karena situasi?
Sung Hee: Apa kau melihatku mencampakkan Eun Woo?
Sung Hee berdiri dan hendak berjalan pergi. Tapi Eun Sung berkata padanya, “Semua yang kau katakan adalah kebohongan, kecuali mengenai Eun Woo. Tolong, katakan padaku dimana Eun Woo.”
Sung Hee: Ya. Jika aku tahu dimana Eun Woo, aku akan mengatakannya padamu. Tapi saat ini aku tidak tahu dimana dia, jadi aku tidak bisa mengatakan apa-apa.
Pyung Joong: Jika kau menyentuh Eun Woo, kau akan kuampuni!
Sung Hee berjalan keluar dan mengemudikan mobilnya. Pyo Sung Chul sudah siap di dalam mobil untuk mengikuti Sung Hee.

Hwan hampir putus asa mencari Eun Woo. Namun tiba-tiba ia mendengar suara piano yang biasa dimainkan oleh Eun Woo. Arahnya dari sebuah gereja. Hwan segera berlari masuk ke gereja, dan di sana ia melihat Eun Woo sedang memainkan piano.
“Oi! Go Eun Woo!” panggil Hwan. Ia mendekati Eun Woo. “Apakah kakakmu bernama Go Eun Sung?”
Eun Woo: Aku sedang menunggu kakak.
Hwan tersenyum lega. Ia melihat kalung Eun Woo yang sama dengan Eun Sung. “Jadi itu benar kau?” Hwan memeluk Eun Woo.

Pyo Sung Chul berhasil mengikuti Sung Hee ke rumahnya yang baru.
Begitu sampai rumah, Sung Hee langsung memasukkan pakaian ke dalam koper.

Nenek Jang meminta Eun Sung dan ayahnya untuk tinggal di rumahnya. Namun mereka menolak.
Di saat yang sama, Hwan mengajak Eun Woo ke rumah Nenek Jang. Eun Woo terlihat takut, namun Hwan mengatakan bahwa ini adalah rumahnya. Eun Woo tidak perlu khawatir.
Eun Sung dan Pyung Joong keluar dari rumah Nenek. Mereka sangat terkejut melihat Eun Woo datang bersama Hwan. Eun Sung bergegas berlari dan memeluk Eun Woo.
Eun Sung: Eun Woo! Ini benar Eun Woo-ku!

Nenek Jang bertanya pada Hwan bagaimana ia menemukan Eun Woo. Hwan menceritakan bahwa ia bertemu Eun Woo di bar Young Suk dan bahwa Eun Woo bukanlah sepupu Young Suk.
Eun Woo ikut-ikutan bicara. “Jika aku ingin bertemu kakak, aku tidak boleh mengatakan apapun. Jika aku menelepon, aku tidak bisa bertemu kakak.”
Eun Sung menoleh. “Eun Woo, siapa yang bilang begitu?”
Eun Woo: Ibu.
Semua orang terdiam dan terkejut.
Pyung Joong: Apa benar ibu yang bilang?
Eun Woo bangkit. Ia menyebutkan nomor telepon ibunya, nomor mobil ibunya dan apartment tempat tinggal ibunya.
Eun Sung menangis. “Bagaimana bisa ia melakukan itu padaku saat ia…” Eun Sung memegang dadanya yang sesak. “Nenek, aku tidak bisa diam seperti ini. Tolong tanya pada Paman Pyo Sung Chul dimana Seung Mi tinggal.”
Nenek Jang meminta Hwan mengantarkan Eun Sung dan Pyung Joong lalu langsung pulang ke rumah lagi.

Seung Mi duduk di taman. Ia menangis dan membakar foto-fotonya bersama Hwan. Ia membakar foto terakhir, namun berubah pikiran dan memungut foto itu lagi.
Seung Mi pulang ke rumah dan melihat ibunya sedang membereskan barang-barangnya. Ia berkata pada Seung Mi agar ia segera pergi.
Sung Hee menceritakan pada Seung Mi tentang perjanjiannya dengan Eun Sung.
Seung Mi: Ibu bilang apa? Aku meminta ibu untuk menyerahkan Eun Woo pada Eun Sung dan kita pergi. Apa aku memintamu untuk membuat Eun Sung pergi?
Sung Hee: Maaf.
Seung Mi: Ibu, kenapa kau seperti ini? Kenapa harus kau yang menjadi ibuku? Memiliki ibu sepertimu membuat aku gila! Apakah begitu sulit melepaskan uang? Aku sudah melepaskan kak Hwan. Kenapa kau tidak bisa melepaskan uang? Kenapa?
Sung Hee: Itu bukan karena uang. Untuk sesekali, sebagai ibumu, aku ingin melakukan sesuatu untukmu.
Seung Mi: Kenapa kau melakukan itu untukku? Aku tidak menginginkan itu.
Sung Hee: Karena itu, kau harus pergi. Aku tidak tahan melihatmu disakiti karena aku. Seung Mi, pergi sekarang. Aku akan menyelesaikan semuanya. Bawa ini dan pergi ke New York. Kau bilang ingin bersekolah di sana, kan?
Seung Mi menolak. Ia bertanya dimana ibunya kehilangan Eun Woo. Sung Hee mengatakan bahwa ia akan mencari Eun Woo sendiri, dan jika berhasil menemukan Eun Woo, ia akan membawa Eun Woo pada Eun Sung atau membesarkan Eun Woo sendiri.
Seung Mi menangis melihat ibunya seperti itu. “Ibu… Kenapa ibu begini?”

Hwan mengantar Eun Sung, Eun Woo dan Pyung Joong ke apartment Seung Mi. Saat itu, Sung Hee sedang memaksa Seung Mi pergi. Sung Hee membuka pintu dan terkejut melihat Pyung Joong sudah ada di depan pintu.
Seung Mi: Eun Woo!
Eun Woo: Kakak.
Pyung Joong menarik Sung Hee masuk ke dalam apartment. Ia hendak memukul Sung Hee, tapi Eun Woo melarangnya. “Itu ibu!” ujar Eun Woo. “Dia akan sakit jika ayah memukulnya. Ibu tidak boleh sakit.”
Pyung Joong: Kau dengar? Dia memanggilmu ibu.
Eun Woo: Ibu, Eun Woo menuruti ibu. Jika aku ingin bertemu kakak, aku harus menuruti ibu.

Seung Mi menangis dan berlari keluar. Eun Sung mengejarnya. Hwan, yang sedang menunggu diluar, melihat mereka.
Eun Sung: Kau! Apa kau yang mengirim email pada ayahku? Apa kau menggunakan namaku untuk mengirim email pada ayahku?
Seung Mi: Ya.
Eun Sung menampar Seung Mi. Hwan melihatnya. “Kenapa kau tega melakukannya? Kenapa kau tega membiarkan aku tidak bertemu ayahku yang ternyata masih hidup? Kau membuatku pergi ke Amerika agar aku tidak bisa bertemu dengan ayahku lagi selamanya?”
Seung Mi: Itu tidak benar. Aku bilang, aku ingin mengirimkan Eun Woo padamu dan pergi. Jika kau tidak berhubungan dengan nenek, aku pasti sudah memberitahukanmu. Apa kau tahu apa artinya bagiku mengatakan padamu bahwa ayah masih hidup? Artinya adalah akhir hubunganku dengan kak Hwan.
Eun Sung: Jadi semuanya karena dia? Karena satu orang itu?
Seung Mi: Ayahmu sangat berharga untukmu, kan? Untukku, kak Hwan adalah orang yang berharga. Ayahmu adalah orang yang baik. Aku bertemu dengannya beberapa kali sebelum ia dan ibu menikah, dan aku sangat menyukainya. Ia baik hati dan hangat. Ia sangat berbeda dengan ayah kandungku. Aku sangat senang ia menjadi ayah tiriku. Tapi, di rumah ayahku yang baru ada kau. Kau sangat dekat dengan ayahmu. Kalian berdua sering bertemu di luar dan makan bersama. Walaupun ia pulang larut setelah bekerja, ia tetap mengobrol denganmu selama 30 menit di kamarmu. Tidak ada ruang untukku di antara kalian berdua. Ayah tidak pernah mengabaikanku. Ia melakukan yang terbaik untuk putri dari wanita yang ia nikahi. Aku makin merasa sedih karenanya. Aku merasa memanfaatkan ibuku. Aku tidak pernah membawa teman ke rumah dan tidak ingin orang lain tahu kalau aku hidup bersamamu. Jadi aku selalu berangkat sekolah 30 menit lebih awal.
Eun Sung: Apa hubungannya semua itu dengan hal yang sedang kita bicarakan?
Seung Mi: Kak Hwan adalah orang yang kesepian dan terluka seperti aku. Walaupun orang lain tidak menyukainya karena sifatnya buruk, tapi ia tidak pernah seperti itu padaku. Aku sangat menyukainya. Aku merasa ada orang yang memperlakukan aku seperti seseorang yang spesial. Kau tidak tahu betapa berartinya itu. Hanya kak Hwan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidup tanpanya.
Eun Sung: Karena dia kau menyembunyikan semua ini?
Seung Mi: Maafkan aku, Eun Sung. Aku tidak punya pilihan lain.
Eun Sung berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Seung Mi.

Hwan mendekati Seung Mi dan bicara padanya. “Apakah kau adalah Seung Mi yang kukenal? Kau bilang melakukan semua ini untukku? Apa aku bagimu hingga membuatmu melakukan hal semacam ini!”
Hwan meninggalkan Seung Mi dan pergi ke bar Young Suk. Tanpa berkata apa-apa, ia langsung memukuli Young Suk karena telah memanfaatkan Eun Woo.

Pyung Joong, Eun Sung dan Eun Woo menginap di rumah Nenek Jang. Ketika Eun Sung dan Eun Woo sudah tidur, Pyung Jung pergi keluar dan menangis. Ia menyesal dengan apa yang telah ia lakukan. “Ini semua salahku.”
Nenek Jang melihatnya dari belakang.

Ayah Jun Se membantu Pyung Joong untuk mengembalikan lagi identitasnya. Sung Hee menutup rekeningnya, berniat untuk mengembalikan uang asuransi. Jika uang asuransi dikembalikan, Pyung Joong ataupun Sung Hee tidak akan terkena sanksi hukum.

Eun Sung membawa Eun Woo dan Pyung Joong ke rumahnya yang kecil. Pyung Joong kelihatan sangat sedih. “Eun Sung, tunggulah sebentar lagi. Ayah akan bekerja keras. Setelah identitasku kembali, dan dengan kemampuanku, tidak akan sulit mendapat pekerjaan.”
Eun Sung mengangguk. “Ayah akan mencari uang. Aku akan mencari uang juga. Secepatnya kita akan membeli rumah yang baru.”

Sung Hee sangat frustasi dan tertekan. Suatu malam ia keluar seorang diri.
Perasaan Seung Mi tidak enak. Ia bergegas ke kamar Sung Hee untuk mencari ibunya. Namun Sung Hee tidak ada di sana. Seung Mi berlari keluar dan berteriak-teriak memanggil, “Ibu! Ibu!”
Sung Hee ternyata berada di atap apartment. Ia menaiki undakan dan memegang pagar pembatas (sepertinya Sung Hee mau bunuh diri).

——————————————————————————

Sinopsis Brilliant Legacy Episode 28

Sung Hee teringat kata-kata Seung Mi, “Ibu, kenapa kau melakukan itu?! Kenapa harus kau yang menjadi ibuku?! Kau membuatku gila!” Ia kemudian teringat Pyung Joong, “Apa kau manusia?!”. Eun Woo berkata, “Itu ibu.”
Sung Hee hendak meloncat dari atas, namun Seung Mi datang dan memanggilnya, “Ibu! Ibu, jangan! Jangan lakukan itu!” Seung Mi menangis ketakutan. “Ibu, kau tidak boleh mati!”
Sung Hee: Tidak ada alasan lagi untuk hidup.
Seung Mi: Hiduplah untukku. Semenderita apapun ibu, ibu tidak boleh mati! Apapun yang telah ibu lakukan, aku butuh ibu! Jangan mati, ibu! Jangan melarikan diri sendirian! Jika ibu pergi, aku tidak memiliki siapa-siapa lagi. Satu-satunya orang yang menyayangi aku adalah ibu. Bagaimana aku bisa hidup tanpa ibu? Jika ibu masih ingin pergi, bawa aku bersama ibu.
Seung mi berlari ke arah Sung Hee. Sung Hee menoleh dan menghalangi putrinya. “Jangan! Jangan, Seung Mi!”
Seung Mi: Ibu! Jangan mencampakkan aku dan melarikan diri! Ibu, kumohon… Kumohon… Ibu…

Seung tertidur di pangkuan Sung Hee. Saat hari sudah pagi, Seung Mi terbangun dan kaget melihat Sung Hee tidak ada di sisinya. Ia berlari keluar dengan panik untuk mencari ibunya. “Ibu!”
Sung Hee kemudian muncul dengan membawa tas. “Sarapan sudah siap. Aku akan segera kembali.”
Seung Mi: Ibu mau kemana?
Sung Hee: Jangan khawatir. Ada hal yang harus aku selesaikan.
Seung Mi: Hati-hati. Cepat pulang.

Sung Hee menemui Pyung Joong untuk memberi tahu bahwa ia telah mengembalikan uang asuransi. “Ini tanda terimanya. Aku juga sudah menjual apartment. Ini uang yang tersisa. Aku sudah menawarkan rumah untuk dijual dan memberi nomor telepon Eun Sung untuk dihubungi. Setelah rumah terjual, kau bisa mengambil uangnya.”
Pyung Joong: Kenapa kau melakukan ini?
Sung Hee: Seung Mi ingin aku untuk mengembalikan semuanya, jadi aku melakukannya. Setelah semuanya dikembalikan, aku akan pergi dari sini. Ia bilang, ia membutuhkan aku. Ia akan sendirian bila tidak ada aku. Ia memanggil orang seperti aku ibunya dan ingin aku trerus terus di sampingnya. Aku akan menggunakan sisa hidupku untuk membayar kesalahanku pada Seung Mi.

Seung Mi datang ke rumah Eun Sung. Ia menunggu di sana karena Eun Sung dan Eun Woo sedang keluar.
“Eun Woo!” panggil Seung Mi ketika melihat Eun Sung dan Eun Woo datang.
Eun Woo: Kakak!
Seung Mi memberikan sebuah tas berisi sesuatu pada Eun Woo. “Dulu kakak belum sempat membelikanmu ini.”
Eun Woo: Ayo kita pergi membeli hamburger. Hamburger dan soda.
Seung Mi tersenyum. “Ingatanmu sangat bagus.”
Eun Sung memberi Eun Woo uang dan memintanya pergi membeli hamburger sendiri. Eun Woo berjalan pergi, namun Seung Mi memanggilnya. “Eun Woo, jaga dirimu.”.
Eun Sung: Jangan melakukan ini lagi pada Eun Woo.
Seung Mi: Aku hanya ingin mampir sebelum pergi.
Eun Sung: Kau ingin pergi?
Seung Mi: Ibuku ingin bunuh diri. Aku memohon padanya untuk tetap hidup karena aku takut hidup… seorang diri.
Eun Sung bersikap dingin. “Karena ibumu ingin bunuh diri, maka kau berharap untuk dimaafkan?”
Seung Mi: Maafkan aku. Itu semua salahku. Jika aku melepaskan kak Hwan lebih awal, ibu pasti tidak akan menjadi serakah. Karena aku ingin setara dengan keluarga kak Hwan, maka ibu menjadi serakah dan mengambil semua uang asuransi. Ia takut ketahuan sehingga melakukan itu pada Eun Woo. Ibuku melakukan kesalahan itu, semuanya karena aku. Maafkan aku, Eun Sung.
Wajah Eun Sung melembut dan akhirnya tersenyum.

Seung Mi menemui Hwan. “Aku kemari karena aku ingin meminta sesuatu dari kak Hwan. Sesuatu yang ingin aku lakukan bersama kak Hwan, tapi belum sempat kita lakukan.”
Ternyata Seung Mi ingin naik bus bersama Hwan. Di sepanjang perjalanan, mereka hanya duduk diam. Sejak bus ramai sampai bus mulai sepi.
Seung Mi: Terima kasih karena selama ini kakak selalu di sampingku. Karena kakak, aku tidak merasa kesepian. Jaga Eun Sung baik-baik.
Hwan hanya bisa terdiam.
Seung Mi: Ini haltenya. Kakak, kau turun duluan.
Hwan melihat Seung Mi dari luar dan Seung Mi menatapnya, tersenyum.

Pyung Joong memberikan uang dari Sung Hee kepada Eun Sung. Ia meminta maaf kepada Eun Sung karena membiarkan Sung Hee pergi tanpa meminta persetujuan Eun Sung. “Walaupun aku ingin membawa dia ke penjara, tapi hal itu tidak akan membuat kemarahanku hilang.” kata Pyung Joong.
Eun Sung juga bercerita bahwa Seung Mi menemuinya dan memohon agar memaafkan ia dan ibunya. Seung Mi tidak akan mungkin bisa hidup tanpa ibunya.

Seung Mi dan Sung Hee pindah.
Nenek Jang memanggil Pyung Joong dan menawarkan proyek untuk membangun apartment karyawan. Ia meminta Pyung Joong untuk mengerjakan proyek ini bukan karena koneksi, tetapi karena Nenek Jang tahu tentang perusahaan Pyung Joong dan kemampuannya sebagai konstruktor. Nenek Jang juga memberi Pyung Joong sejumlah uang untuk membeli rumah baru, namun Pyung Joong menolak. Ia mengatakan bahwa Eun Sung akan membawa Eun Woo untuk bersekolah di luar negeri.

Young Suk datang ke cabang kedua dan meminta agar Hwan tidak melaporkannya ke polisi. Hwan menarik kerah baju Young Suk. Eun Sung melihat mereka dan melerai. “Jangan bertindak seperti itu pada pelanggan!” ujar Eun Sung pada Hwan. Eun Sung hendak minta maaf, namun karena ia melihat bahwa pelanggan itu adalah Young Suk, dengan spontan Eun Sung malah memukulnya.

Eun Sung memberi tahu Hwan bahwa ia akan bersekolah di luar negeri menggunakan uang yang dikembalikan Sung Hee. Hwan marah dan berseru, “Jangan pergi!”
Tapi Eun Sung bersikeras. Ia ingin memberi Eun Woo pendidikan pianist yang baik agar Eun Woo bisa menjadi pianist dan komposer profesional. Hwan menyerah.

Eun Woo bilang pada Eun Sung bahwa Kak Ramyun (Hwan) menyukai Spy. “Spy sangat cantik dan tidak pernah mendengarkan kakak. Kak Ramyun menyukai Spy. Kau tidak tahu bagaimana rasanya menyukai orang yang membencimu kan?”
Eun Sung: Hwan bilang begitu?

Nenek Jang berkata pada Hwan, jika ia mau bersama Eun Sung, kenapa Hwan tidak bersekolah di luar negeri juga? Ia sekarang sudah bisa mempercayai Hwan dan membiarkan Hwan pergi “Buat keputusan yang akan membuatmu tidak menyesal.”
Di lain pihak, Pyung Joong bertanya pada Eun Sung apakah ia pergi karena Hwan. Eun Sung bilang bahwa ia akan pergi. Pyung Joong kemudian berkata, “Jangan lakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal nantinya.”

Hwan berlari ke halte bus untuk menemui Eun Sung.
Eun Sung sudah naik bus untuk menemui Hwan. Ia melihat Hwan ingin memanggil taksi dan bergegas turun. Ia melambai melarang Hwan.
Eun Sung: Tunggu aku. Aku ada di situasi dimana aku tidak bisa tidak pergi. Jadi tunggu aku.
Hwan: Apa kau bilang?
Eun Sung: Aku bilang tunggu aku!
Hwan tersenyum dan memeluk Eun Sung. “Bodoh!” katanya. “Tentu saja aku akan menunggumu.”

Hwan bilang ia sebenarnya ingin pergi juga, namun ia tidak bisa karena ia belum memberikan nenek kenangan yang indah. Ia tidak bisa meninggalkan nenek. Jika ingan nenek mulai memudar, ia ingin neneknya melupakan kenangan-kenangan yang buruk dan menggantinya dengan kenangan yang indah bersama cucunya. Ia juga ingin membuktikan pada neneknya bahwa ia bisa membangun hidupnya sendiri sedikit demi sedikit.
Eun Sung: Kau jadi sedikit keren.
Hwan: Sedikit?
Eun Sung: Semua itu akan tercapai. Karena kau adalah cucu nenek.

Eun Sung menemui Jun Se dan Hye Ri untuk mengatakan rencananya bersekolah di luar negeri. Ia berterima kasih pada Jun Se karena telah menolongnya selama ini. Jun Se bilang, Eun Sung harus baik-baik dengan Hwan. Ia ikut bahagia jika gadis yang disukainya bahagia.

Nenek Jang menyuruh Pyo Sung Chul untuk bertemu dengan seorang wanita dan mencari jodoh. Namun Sung Chul menolak karena ia tidak ingin menikahi wanita yang tidak dikenalnya. Nenek Jang memanggil Young Ran dan menunjukkan foto wanita itu.
Nenek Jang: Apa pendapatmu tentang wanita ini? Apa dia tidak cantik?
Young Ra berkata dingin, “Dia seperti wanita penggoda. Ibu, kenapa kau selalu memaksa orang yang tidak mau pergi berkencan?” Lalu pergi ke dapur.
Nenek Jang terkejut sekaligus bingung.
Pyo Sung Chul menyusul Young Ran ke dapur.
Young Ran: Apa kau tidak mau berkencan karena wanita itu? Dia sudah tua, dia kekanak-kanakan, dan wanita yang…
Young Ran teringat saat ia terpeleset dan Sung Chul menangkapnya. Sung Chul berkata, “Berhentilah melakukan hal-hal yang bodoh.”
Young Ran: Apa itu… aku?
Hwan tiba-tiba datang untuk menanyakan makan siang.

Nenek Jang akhirnya menyadari bahwa Sung Chul menyukai Young Ran dan tidak menikah karena itu. Sung Chul minta maaf karena berani berbuat begitu, namun Nenek Jang bilang bahwa tidak ada perbedaan diantara manusia. Nenek juga merasa tenang jika menitipkan Young Ran pada Sung Chul.

Setelah makan siang, nenek meminta semuanya untuk berkumpul. Karena Eun Sung menolak perusahaan, maka ia akan menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan karyawan. Ia akan membagi-bagikan saham pada para karyawannya. Untuk aset yang tersisa, nenek menulisnya dalam surat warisan dan menyerahkannya pada Hwan. Ia meminta Hwan melaksanakan apa yang tertulis di surat warisan itu jika nenek sudah meninggal.

Nenek Jang berkata bahwa ketika ia sedang koma di rumah sakit, samar-samar ia mendengar suara Hwan yang menceritakan kecelakaan ayahnya. Nenek menoleh pada Hwan, “Hwan! Apakah itu semua benar?”
Hwan: Maafkan aku.
Nenek Jang: Bodoh! Kenapa kau tidak menceritakannya? Kenapa kau hidup dengan kesedihan seperti itu di hatimu? Apa mungkin… karena putraku mati untuk menyelamatkan anaknya, jadi kau takut aku akan membencimu?
Hwan: Semua itu terjadi karena aku terlalu keras kepala.
Nenek Jang menangis dan memeluk Hwan. Ia berkata bahwa orang tua manapun tidak akan menginginkan kejadian buruk menimpa anaknya.

Jung mencoba mencari pekerjaan, tapi kemampuannya terlalu buruk dan ia memutuskan untuk belajar terlebih dahulu.

Hwan mengajukan proposal untuk membuka cabang secara global. Tujuan pertama adalah New York. “Aku mencium adanya motif tersembunyi.” ujar Nenek Jang curiga.
Hwan: Tidak ada.
Nenek Jang: Tidak?
Hwan menahan senyum. “Tentu tidak.”
Nenek Hwan: Kalau begitu, ayo kita rapatkan.

Nenek Jang membagikan saham pada para karyawannya.
Pyung Joong memulai proyeknya dan membina karirnya dari awal lagi.
Seung Mi menjadi seorang guru dan Sung Hee bekerja di toko bunga.

Karena hari ini Eun Sung akan pergi ke Amerika, Hwan mengajaknya pergi piknik di tempat dimana Hwan dan ayahnya pergi sebelum kematian ayahnya. Hwan berniat memasakkan kari untuk Eun Sung. Agak ribet juga dia memasaknya.
Eun Sung memakan kari itu. Ia mengunyah dan terdiam.
Hwan: Bagaimana rasanya?
Eun Sung: Baru kali ini aku merasakan masakan seperti ini. Ini enak.
Hwan senang. “Benarkah?” Ia menyendok kari dan memakannya. “Kenapa kari rasanya seperti bubur?”
Eun Sung: Punyaku enak. Sangat enak sampai aku ingin menangis.
Eun Sung terharu, menahan tangisnya. Hwan tersenyum padanya.
Setelah makan, mereka berjalan-jalan melihat danau.
Eun Sung: Aku tidak ingin terlambat ke airport. Aku harus pergi sekarang.
Hwan hanya diam. Eun Sung menatapnya. “Setelah selesai bekerja, kau harus langsung pulang!” kata Eun Sung. “Jika sudah dapat gaji, jangan minum-minum. Apalagi kalau kau sampai mabuk dan mengetuk pintu rumah seorang gadis…” ujar Eun Sung seraya menunjukkan kepalan tangan pada Hwan.
Hwan tertawa. “Apa?”
“Ada hal lain yang ingin kukatakan.” kata Eun Sung. “Sun Woo Hwan!” Eun Sung kemudian berbisik di telinga Hwan, “A-ku-men-cin-ta-i-mu.”
Hwan terkejut. “Apa yang tadi kau katakan?”
Eun Sung: Kau tidak dengar?
Hwan: Katakan sekali lagi.
Eun Sung tersenyum dan mencium Hwan.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s