Sinopsis Marry Stayed Out All Night Episode 8

Standar
“Kami tidak menikah.” Mae Ri mengumumkan hal itu kepada Ayahnya dan Tuan Jung di rumah Moo Kyul. Tuan Jung kaget mendengar itu dan bertanya, “Apa maksudmu?” Ayah Mae Ri juga sama-sama kaget mendengar hal itu, “Apa maksudmu? Kau tidak menikah?” Seo Joon dan Jung In masuk kedalam rumah Moo Kyul dan mendengar semua hal ini. Mae Ri pun sekali lagi menjelaskan, “Kami… Tidak pernah menikah. Ini semua hanya kebohongan.” Moo Kyu yang mendengar pengakuan Mae Ri hanya bisa bergumam pelan, “Ya, Wi Mae Ri!”Ayah Mae Ri menatap Mae Ri dan Moo Kyul lalu bertanya pada Mae Ri, “Jadi selama ini mengenai kalian yang saling jatuh cinta itu hanya sebuah akting?” Mae Ri hanya terdiam dan menitikan air matanya.
Seo Joon kaget mendengar ini dan memilih keluar dari dalam rumah Moo Kyul. Jung In pun ikut keluar dari dalam rumah dan mengikuti Seo Joon. Seo Joon langsung menundukan kepalanya, Jung In bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Seo Joon maish terus menunduk dan menjawab, “Kepalaku hanya pusing.” Jung In menarik tangan Seo Joon dan berniat mengantar Seo Joon pulang namun Seo Joon langsung menolaknya, “Tidak perlu! Aku hanya ingin sendirian. Masalah antara Kang Moo Kyul dan Wi Mae Ri ini benar-benar tidak masuk akal!” Seo Joon berjalan pergi dan Jung In melihat kepergian itu.
Tuan Jung, Ayah Mae Ri dan Mae Ri keluar dari rumah Moo Kyul dan bertemu dengan Jung In yang ada di depan rumah Moo Kyul. Ayah Mae Ri bertanya, “Menantu Jung. Apa yang terjadi? Apakah kau sudah tau hal ini?” Jung In menjawab, “Kau pasti terkejut akan hal ini namun aku akan menjelaskannya padamu.” Tuan Jung tiba-tiba saja menampar Jung In, “Dasar brengsek!” Mae Ri dan Ayah Mae Ri sama-sama kaget dan menenangkan Tuan Jung. Tuan Jung langsung berjalan kedalam mobil dan Mae Ri bersama Ayahnya pun mengikuti Tuan Jung dari belakang dan Mobil pun langsung pergi meninggalkan Jung In yang masih terdiam.
Karena pernikahan Moo Kyul dan Mae Ri sudah ketahuan bahwa itu pernikahan palsu maka perjanjian 100 hari itu pun tidak berlaku lagi dan Ayah Mae Ri meminta agar pernikahan ini di percepat saja. Tuan Jung setuju, “Ya kau benar. kita harus melakukan pesta pertunangan mereka dalam minggu ini.” Ayah Mae Ri berkomentar, “Ya jika menurutku, aku ingin pernikahan ini di percepat namun karena Mae Ri sedang merasa tidak enak badan maka lebih baik jika memberikan dia waktu sebelum pernikahan ini.” Tuan Jung setuju akan pendapat itu, “Benar karena kejadian yang mengejutkan itu dan untungnya semua berjalan lancar karena mereka berdua tidak menikah karena sebuah cinta.(Maksudnya Moo Kyul dan Mae Ri untungnya tidak menikah.)”
Ayah Mae Ri berkomentar, “Ya ini melegakan. Mae Ri sangat menyesal karena kesalahannya dan sekarang dia menerima hal ini. ” Tuan Jung berkata, “Bagus. Kalau begitu lupakan kejadian yang telah lalu dan kita siapkan untuk pesta pertunangan mereka.”
Pengurus rumah datang dan Tuan Jung bertanya, “Apakah kau sudah memperiapkan semua yang aku pinta?” Pengurus rumah mengangguk dan memberikan sebuah map pada Tuan Jung dan Ayah Mae Ri. Ayah Mae Ri membuka Map itu dan di dalamnya ada sebuah dokument berjudul, “Pelatihan menjadi Menantu yang baik.” Pengurus rumah menjelaskan akan dokument itu, “Pengantin wanita harus dilatih terlebih dahulu untuk menyandang status barunya sebelum pernikahan ini.” Ayah Mae Ri membawa materi yang akan di sampaikan pada Mae Ri, “Etika, bahasa asing, kemampuan memasak, woow ini luar biasa.” Tuan Jung menutup dokument itu dan berkata, “Mae Ri sudah memiliki dasar untuk menjadi seorang Menantu di rumah ini jadi tolong jangan terlalu keras padanya dan ajarkan padanya secara baik.” Pengurus rumah mengangguk mengerti, “Tentu.”
Ayah Mae Ri berkomentar, “Dia tumbuh besar tanpa ibunya sejak dia masih kecil dan aku sempat khawatir jika da tidak bisa menjadi menantu yang baik. Aku sungguh berterima kasih padamu. Mae Ri pasti akan menjadi menantu yang terbaik dan idaman!” Ayah Mae Ri terus membaca dokument itu sementara Tuan Jung hanya diam saja.
Moo Kyul ada di rumahnya dan dia mengambil minum di kulkas, di dalam kulkas ada kimchi yang dia buat bersama Mae Ri dan dia jadi ingat saat-saat membuat kimchi itu apalagi saat Ibu Moo Kyul berkomentar, ‘Kalian seperti pengantin baru saja.’ Moo Kyul menutup kulkasnya lalu melihat rumahnya yang berantakan dan akhirnya dia memutuskan untuk merapihkan rumahnya. Moo Kyul mengumpulkan sampah-sampah kertas dan dia menemukan kertas yang isinya Skenario awal pertemuan dia dengan Mae Ri, Moo Kyul melihat kertas itu sebentar lalu memasukannya kedalam tempat sampah. Saat bersih-bersih, Moo Kyul kembali menemukan sarung tangan rajutnya yang di buat oleh Mae Ri dan dia terpaksa memasukannya kedalam kantong sampah. Moo Kyul melihat kontrak Produser Music-nya dan dia membuangnya.

 

 

 

Jung In sedang berada di dalam studio dan mendengarkan lagunya Moo Kyul. Manager datang dengan ceria dan menghampiri Jung In, “Aku sudah menemukan beberapa kanidat untuk band indie yang akan menggantikan posisi Produser Music. Kang Moo Kyul ini benar-benar tidak bertanggung jawab! Setelah dia berlagak seperti superstar di Pembukaan JI Entertainment dia kini meninggalkannya begitu saja. Bagaimana bisa seperti ini?” Jung In berkomentar, “Dia bukannya tidak bertanggung jawab tetapi ini dikarenakan issue masalah pribadinya.” Manager terlihat tidak suka dan bergumam, “Oh benarkah seperti itu?”
Manager ingat akan satu hal dan berkata, “Oh apakah kau sudah melihat berita mengenai Seo Joon?” Jung In berkomentar, “Aku yakin karyawanku sudah meluruskan masalah itu.” Manager berkata, “Tidak semudah itu kali ini. Lihatlah berita baru ini.”
Manager memperlihatkan sebuah berita yang membahas masalah Seo Joon dan Lee Ahn lagi. Manager berkata, “Sudha kubilang sebaiknya kita menyelesaikan masalah ini sejak awal. Siapa yang akan ada disisinya saat dia tidak menandatangani kontrak dengan perusahaan apapun(Membicarakan Seo Joon)? Jika masalah ini terus berlanjut, aku khawatir Lee Ahn juga akan jatuh pada masalah ini. Jadi karena masalah ini sudah seperti ini, aku akan membantu Seo Joon untuk menyelesaikan masalah ini kembali. Pertama aku akan meminta Reporter untuk membelokan berita ini. Lalu bagaimana jika kita membuat berita bohong dengan dia masuk kedalam rumah sakit? Bukankah itu bagus?” Jung In berkata, “Aku pikir itu bukanlah hal yang dapat membantu.” Jung In langsung pergi meninggalkan Manager yang kesal.
Seo Joon melampiaskan semua kekesalannya ini dengan pergi ke tempat Gym. Selesai olah raga, Jung In menghampiri Seo Joon dengan membawakan Seo Joon ipod dan air mineral. Seo Joon menerimanya dan berkomentar, “Aku baik-baik saja. Lagipula ini bukan pertama kalinya hal ini terjadi pdaku. Aku dapat mengatasinya.” Jung In bertanya, “Apakah tidak mempedulikan masalah ini adalah sifatmu?” Seo Joon menjawab, “Aku hanya tidak suka dengan berita yang menganggu ini.” Jung In berkata, “Aku pikir ini sudah sampai batasnya. Aku akan meminta polisi untuk mencari orang yang bertanggung jawab atas semua berita bohong tentang dirimu. Dan hukum akan menyelesaikan hal ini.” Seo Joon tersenyum dan berkomentar, “Itu tidak akan membantu banyak.”
Seo Joon ingat Moo Kyul lalu menanyakannya pada Jung In, “Ah bagaimana dengan Moo Kyul?” Jung In hanya terdiam dan tersenyum tipis mendnegar pertanyaan itu.
Mae Ri mengetik sebuah sms untuk dikirimkan pada Moo Kyul, ‘Maaf aku meninggalkanmu seperti ini. Sekarang kau kehilangan pekerjaanmu karena aku. Semua hal menjadi begitu membingungkan.’ Mae Ri memikirkan sms itu dan dia lalu menghapusnya dan mengganti dengan kata-kata baru, “Apa kau baik-baik saja? Aku tidak dapat berterima kasih padamu saat itu padahal kau telah melakukan banyak hal untukku. Sekarang aku hanya bisa meminta maaf. Besok aku akan….”
Suara teman-teman Mae Ri terdengar dan mereka berkata, “Wow gaun ini snagat bagus. Pasti cocok di Mae Ri. Hey Mae Ri lihatlah baju ini.” Mae Ri melihatnya dan hanya terdiam. Ji Hye duduk di samping Mae Ri sambil membawa gaun itu dan dia berkomentar, “Mae Ri tidak apa-apa melakukan seperti ini. Kuatkan hatimu dan menikahlah. Kau tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi di lain waktu. Kau mendapatkan jackpot!!” So Ra ikut berpendapat, “Benar. Lagipula kau tidak dipaksa untuk menikah dengan seseorang yang kau tidak sukai. Bukankah kau bilang bahwa Jung In bukan orang yang jahat?”
Ji Hye bertanya, “Ah apakah kau sudah menjelaskan mengenai pernikahan palsu ini pada Jung In?” Mae Ri menjawab, “Ah dia terlihat sedang sangat sibuk jadi sebaiknya nanti saja.” Ji Hye berkomentar, “Baguslah… Jangan membuat masalah lagi dan ambilah jalan ini.” So Ra ikut berkomentar, “Dan jangan hubungi Kang Moo Kyul lagi. Mengerti?” Mae Ri mengangguk, “Ya. Bagaimana mungkin aku memperlihatkan wajahku di depan dia setelah masalah ini terjadi. Dia pasti marah padaku.” Ji Hye berkata, “Tentu saja. Ini akhir bagi kalian berdua!”
Mae Ri menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. So Ra melihat itu dan bertanya, “Apa kau baik-baik saja?” Mae Ri menjawab, “Entahlah. Pikiranku kosong. Seperti angin taifun yang menerbangkannya dan sekarang terasa tenang dan sunyi. Seolah-olah aku berdiri di depan badai ini.”
Jung In masuk kedalam toko pakaian itu dan Ji Hye serta So Ra langsung semangat menyambut Jung In. Sementara itu Mae Ri hanya duduk menundukan kepalanya dan Jung In juga hanya terdiam.
Jung In mencoba jas untuk acara pertunangannya dan penjaga toko berkomentar, “Tuan kau terlihat begitu gagah.” Ji Hye berkomentar, “Ya kau terlihat begitu tampan. Mae Ri bukankah dia terlihat begitu tampan?” So Ra ikut berkomentar, “Ya dia sangat tampan. Ayo kita foto. Tunggu aku akan mengambil fotonya.” Jung In diam saja tidak menampakan ekspresi apapun. Mae Ri berdiri di samping Jung In, sementara Ji Hye dan So Ra mengambil foto mereka berdua. Ji Hye dan So Ra berkomentar “Wow kalian serasi sekali. Pertunangan kalian pasti sangat hebat.”

 

So Ra mendekati Mae Ri dan berkata, “Lihatlah, bukankah dia tampan?” Ji Hye mendekati Jung In sambil memperlihatkan foto itu, “Jung In, bukankah Mae Ri sangat cantik?” Jung In melihat foto itu dan erkomentar singkat, “Sangat cantik.” HP Jung In itu berbunyi dan dia dengan cepat permisi pergi sebentar untuk mengangkat telfon.
Ji Hye mendekati Mae Ri dan berkata, “Dia terlihat seperti yang marah. Kau telah membonginya dengan pernikahan palsu itu lebih dari 50 hari tentu saja dia akan marah. Kau benar-benar melakukan kejahatan. Berhentilah seperti itu dan baik padanya.” Mae Ri terdiam mendengar kata-kata itu.
Keluarga Mae Ri dan Keluarga Jung In makan malam bersama. Ayah Mae Ri berkata, “Akhirnya kalian akan melakukan pertunangan di hari Ulang Tahun Mae Ri. Besok akan berjalan dengan cepat. Mari kita lihat… Pesta pertunangan akan mulai pada jam 7 malam dan itu artinya kita hanya memiliki wkatu 23 jam 30 menit lagi menuju pesta itu.” Mae Ri dan Jung In sama-sama terdiam tidak berkomentar apapun juga. Tuan Jung berkata, “Ya benar. Ah kedua keluarga setuju bahwa pesta ini akan di lakukan secara sederhana saja. Aku harap kau mengerti Mae Ri.” Mae Ri menjawab pelan, “Tentu aku mengerti Paman.”
Ayah Mae Ri terlihat begitu bersemangat dan berkata, “Wow besok aku akan benar-benar menjadi Ayah Mertua. Jung In, setelah acara pertunangan ini kau akan mengumumkan pertunangan ini secara resmi kan di kantormu?” Jung In terlihat bingung namun dia akhirnya menjawab, “Tentu saja Ayah Mertua. Walaupun situasinya cukup sulit namun aku akan mengatasi masalah ini.” Ayah Mae Ri tiba-tiba terlihat sedih dan berkata, “Pasti sangat membahagiakan sekali jika Ibu Mae Ri ada di tengah-tengah kebahagiaan ini.”
Tuan Jung berkata, “Ah ya besok Jung In akan datang langsung dari kantor jadi jika kau tidak keberatan maka kami akan menjemputmu ke pesta ini Mae Ri.” Mae Ri berkomentar, “Tidak perlu Paman. Aku berniat untuk mengunjungi Makan Ibuku terlebih dahulu.” Ayah Mae Ri berkata, “Kau akan pergi kesana? Kalau begitu pergi bersamaku.” Jung In dengan cepat berkata, “Aku akan pergi bersamanya. Besok adalah hari yang penting jadi kau tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku akan pergi bersamanya.” Ayah Mae Ri senang, “Baiklah kalau begitu, aku setuju.” Tuan Jung juga bilang bahwa dia setuju. Jung In melanjutkan makan malamnya sementara Mae Ri hanya menatap Jung In.
Saat tertidur, Jung In kembali bermimpi buruk dan dia bangun dengan gelisah. Jung In melihat kaus akki pemberian Mae Ri dan ingat kata-kata Mae Ri, “Pastikan kau memakai kaus kaki ini sebelum tidur dan kau tidak akan bermimpi buruk. Dan jika kau mengingat apa yang sebenarnya terjadi, mimpi buruk itu tidak akan menganggumu kembali. ” Jung In memakai kaus kaki itu, dia tersenyum lalu mulai kembali tertidur.
Besoknya…(Hari pertunangan Mae Ri). Pagi hari Mae Ri sudah terbangun dan dia menatap foto-foto di dalam HPnya. Dia menatap foto dia bersama Jung In yang memakai jas untuk pesta pertunangan itu dan mereka berdua terlihat sama-sama tidak bahagia. Mae Ri terus melihat foto lainnya dan dia tertawa saat melihat foto dia bersama Moo Kyul dan teman-temannya saat foto bukti dia dan Moo Kyul sudah menikah. Moo Kyul terus melihat foto lain dan dia terdiam saaj melihat foto Moo Kyul yang sedang bernyanyi di atas panggung. HP Mae Ri berbunyi dan dia mengangkatnya dengan cepat…
Ternyata itu telfon dari Jung In yang mngajak Mae Ri pergi keluar. Di dalam mobil mereka berdua sama-sama terdiam. Jung In membuka pembicaraan, “Kau terlihat seperti yang tidak tidur dengan nyenyak.” Mae Ri menatap Jung In dan menjawab, “Ya. Apakah kau juga sulit tidur?” Jung In menjawab, “Tidak. Aku bermimpi baik.” Mae Ri kembali terdiam. Mae Ri lalu bertanya, “Kemana kita akan pergi?” Jung In tidak menjawabnya dan hanya tersenyum.
Jung In membawa Mae Ri ke sebuah taman yang sepi dan berkata, “Saat aku membuka mataku, aku merasa seperti datang kemari bersamamu. Kau senang taman kan?” Mae Ri tidak menjawab apapun. Jung In menatap Mae Ri lalu menarik tangan Mae Ri untuk di genggamnya dan dia membawa Mae Ri jalan-jalan sambil mengenggam tangan Mae Ri. Mae Ri berkata, “Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin melakukan pernikahan yang aneh ini.” Jung In menjawab, “Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku memiliki banyak pikiran dan pada saat itu aku juga marah.” Mae Ri berkata, “Aku mengerti. Jika aku menjadikau maka aku juga akan merasakan hal yang sama.” Jung In berkata, “Ini bukan karenamu. Aku marah pada diriku sendiri.”
Jung In mengeluarkan sebuah foto dan berkata, “Bukankah kau pernah bilang bahwa jika aku mengingat apa yang sebenarnya terjadi maka mimpi buruk itu tidak akan menganggu lagi kan?” Mae Ri menatap Jung In sesaat lalu menatap foto yang di berikan oleh Jung In yang ternyata foto Jung In menggendong Mae Ri.
Beberapa tahun lalu…
Ibu Mae Ri baru saja meninggal dan Ayah Mae Ri terlihat sangat sedih. Mae Ri kecil memakan permennya dan tidak mengerti akan hal ini. Dia masuk kedalam rumah dan melihat Jung In yang sedang menelfon Ibunya, “Ibu aku ingin tinggal di Korea bersamamu. Aku tidak ingin tinggal di Jepang lagi. Anak-anak di Jepang selau memukulku dan menindasku. Ayah terus mengomeliku dan mengatakan padaku untuk bertahan. Ibu…” Suara Mae Ri yang memanggilnya mengagetkan Jung In yang langsung menutup telfon, “Oppa!!”
Jung In berkata pada Mae Ri dengan menggunakan bahasa Jepang, “Pergilah dari sini!” Mae Ri kecil yang tidak mengerti bahasa Jepang pun bertanya, “Apa yang kau katakan?” Jung In tidak menjawab dan balik bertanya, “Kenapa kau maish bisa tersenyum seperti itu setelah Ibumu meninggal?” Mae Ri yang polos itu menjawab, “Karena Ibuku pegri ke surga.” Jung In berkata, “Itu artinya Ibumu meninggal. Apa kau tau arti itu? Itu artinya ini akhir segalanya. Kau tidak akan bertemu dengannya kembali.” Mae Ri menjatuhkan permennya dan langsung menangis. Jung In kaget melihat itu dan kebingungan.
Jung In pun menggendong Mae Ri dan membawanya menuruni tangga. Saat di tangga dia terpeleset dan membuat Mae Ri mendapatkan lukanya di kening itu. Jung In kembali panik melihat hal itu dan langsung menggendong Mae Ri ke taman untuk di obati.
Jung In mengobati luka Mae Ri dan memberikannya plester. Jung In lalu berkata dalam bahasa Jepang, “Aku disini dan akan selalu menjagamu. Selamanya.” Mae Ri tidak mengerti bahasa Jepang itu dan bertanya, “Boku ga iru? Apa? Boku Ga iru?” Jung In tidak menjawabnya dan berjongkok di depan Mae i agar Mae Ri bisa naik ke punggungnya dan dia kembali menggendong Mae Ri menuju rumah.
Di depan rumah terlihat Tuan Jung dan Ayah Mae Ri. Tuan Jung berkata, “Karena kau membuatnya terluka saat bermain denganmu maka suatu hari nanti kau harus menjadi suaminya.” Ayah Mae Ri berkomentar, “Benar. Ah mereka terlihat sangat lucu, sebaiknya kita ambil foto mereka berdua.”
Kembali ke masa sekarang…
Jung In masih mengajak Mae Ri berjalan-jalan dan mengenggam tangan Mae Ri. Mae Ri bertanya, “Apakah ini artinya kau mengingat semuanya?” Jung In menjawab, “Hmm tidak semuanya. Hanya beberapa hal. Dan aku pikir mulai sekarang aku akan mendapatkan mimpi yang indah.” Mae Ri tersneyum dan berkomentar, “Aku ikut senang.” Jung In berhenti berjalan dan berkata, “Maafkan aku atas luka itu.” Mae Ri tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa.” Jung In berkata, “Itu pasti sangat menyakitkan.” Mae Ri berkata, “Bukankah kau bilang mimpi buruk tidak akan menganggumu kembali?” Jung In tersenyum dan mereka berdua kembali berjalan-jalan bersama sambil bergandengan tangan.

Mereka berdua pulang ke rumah Jung In dan Jung In berkata, “Mae Ri. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu.” Jung In membawa ke sebuah ruangan yang penuh buku dan Mae Ri bertanya, “Ini apa?” Jung In menjawbanya sambil menatap Mae Ri, “Ini perpustakan. Hadiah pertunangan dariku untukmu.” Mae Ri senang dan melihat-lihat buku-buku yang ada lalu dia berkomentar, “Wow semua buku kesukaanku ada disini.” Mae Ri terus melihat-lihat buku itu dan dia mengambil sebuah buku. Mae Ri melihat itu dan ingat sesuatu…
Flashback..
Mae Ri berada di rumah Moo Kyul dan dia bertanya, “Music seperti apa yang kau sukai?” Moo Kyul menjawab, “Musik yang tidak bohong.” Mae Ri berkomentar, “Jadi musik jujur? Seperti musik yang dapat menyentuh orang-orang?” Moo Kyul berkata, “Jika kau berfikir seperti maka baiklah seperti itu.” Mae Ri kembali bertanya, “Lalu orang seperti apa kau ini?” Moo Kyul balik bertanya, “Apa maksudmu?” Mae Ri menjawab, “Kau tidak memiliki uang namun kau bisa hidup dengan santai. Apakah kau anak harap dari seorang Direktur ternama?” Moo Kyul tertawa mendengar itu dan berkata, “Apakah kau sedang membuat cerita dalam novel? Berhentilah mengatakan hal yang tidak masuk akal dan baca saja buku itu.” (Buku yang di baca Mae Ri di tempat Moo Kyul itu sama dengan buku yang di pegang Mae Ri di rumah Jung In.)
Kembali ke masa sekarang….
Mae Ri tersenyum memikirkan hal itu dan Jung In bertanya, “Apa yang sedang kau pikirkan?”Mae Ri menatap Jung In dan menjawab, “Hmm tidak ada.” Jung In mengangkat sebuah kantong yang isinya baju Tunangan Mae Ri dan berkata, “Kau ingin kita pergi dan mengambil sesuatu untuk dimakan setelah kita datang ke pemakaman Ibumu?” Mae Ri mengambil kantong itu dan berkata, “Baiklah aku akan pergi dan menggantinya sebentar.” Mae Ri lalu pergi dari ruangan perpustakaan itu.
HP Jung In berbunyi dan itu telfon dari perusahaan yang memberikan kabar buruk, “Gawat tuan. Seo Joon tadi menelfon ke kantor dan bilang bahwa dia tidka ingin terlibat dalam drama ini lagi.” Jung In tentu saja kaget mendengar itu.
Mae Ri telah mengganti bajunya dan menghampiri Jung In, “Aku sudah selesai. Ayo kita pergi ke makam Ibuku sekarng.” Jung In berkata, “Sesuatu yang penting terjadi di kantor.” Mae Ri berkomentar, “Pergilah dan urus masalah itu. Aku akan pergi ke makam Ibuku sendiri.” Jung In berkata, “Kenapa kita tidak pergi bersama nanti sore? Lalu setelah itu kita bisa pergi ke acara pertunangan.” Mae Ri mengangguk, “Ah baiklah jika begitu.” Jung In berkata, “Kau pasti lelah, beristirahatlah dulu. Aku akan kembali secepatnya.” Mae Ri berkata, “Ya. Aku akan disini sambil membaca buku.” Jung In pamit pergi namun dia kembali mendekati Mae Ri dan mencium kening Mae Ri lalu dia berkata, “Selamat ulang tahun.” Jung In tersenyum dan pergi.
Mae Ri merapihkan poni rambutnya lalu ada Sms yang masuk kedalam HPnya. Itu merupakan SMS dari Ji Hye yang berisi, ‘Ini akan menjadi Ulang Tahun terakhirmu sebagai seorang single. Selamat Ulang Tahun!’ Mae Ri melihat-lihat sms yang masuk dan salah satunya ada Sms dari Moo Kyul yang berisi, ‘Ayo bertemu.’
Moo Kyul sedang bermain gitar di taman dan cukup banyak orang yang melihatnya. Mae Ri datang ke taman itu dan melihat Moo Kyul dari jauh sambil tersenyum. Moo Kyul selesai bernyanyi dan langsung ada 3 orang yang menghampirinya sambil memeluknya. Moo Kyul terlihat kewalahan dan Mae Ri tersenyum melihat hal yang terjadi. Para pelajar itu pergi lalu Mae Ri berjalan mendekati Moo Kyul.
Moo Kyul sedikit kaget saat melihat Mae Ri, “Kau datang?” Mae Ri tersenyum, “Ya. Sudah lama tidak bertemu.” Moo Kyul berkomentar, “Hmm ya.” Keduanya lalu terdiam karena bingung akan berbicara apa. Mae Ri pun memulai pembicaraan, “Kau terlihat lebih baik. Lebih damai.” Moo Kyul menjawab, “Ya. Aku kembali menjadi seperti semula.” Mae Ri mengangguk mengerti lalu menundukan kepalanya. Moo Kyul balas bertanya, “Bagaimana denganmu?” Mae Ri menjawab, “Hm aku? Aku juga merasa lebih damai.”

Teman-teman band Moo Kyul lalu datang menggunakan mobil tuanya Moo Kyul. Teman Moo Kyul berkata, “Hey Kang Moo Kyul kan sudah kukatakan kau jangan datang seperti ini. Kita harus menaikan level kita. Ya kita harus meningkatkan selera style kita.” Salah satu teman Moo Kyul lalu menguncikan sebuah borgol besi ke tangan Moo Kyul dan Moo Kyul berkata, “Apa ini? Ini bukan style ku.” Mae Ri yang melihat itu tersenyum. Teman-teman Moo Kyul yang melihat Mae Ri pun langsung menyapanya ramah, “Oh ada Mae Ri. Hi Mae Ri Noona.” Mae Ri hanya menangguk membalas sapaan itu. Mae Ri lalu bertanya pada Moo Kyul, “Ada apa kau memintaku datang kemari?” Moo Kyul terlihat kebingungan menjawabnya.
Akhirnya Moo Kyul memberikan sebuah amplop pada Mae Ri dan Mae Ri berkata, “Kau menelfonku untuk membayar uang itu? Tapi dari mana kau mendapatkannya?” Moo Kyul menjawab, “Uang adalah sesuatu yang bisa datang dan pergi.” Teman Moo Kyul lah yang akhirnya menjawab pertanyaan Mae Ri, “Sekarang Moo Kyul bekerja menjadi guru music dan berita dia yang menjadi guru music itu tersebar sangat cepat. Itulah sebabnya dia bisa mendapatkan uang.” Mae Ri diam saja mendengar hal itu dan Moo Kyul juga terdiam.
Teman Moo Kyul berkomentar, “Ada apa ini? Mengapa suasananya menjadi seperti ini?” Moo Kyul melihat tangannya yang masih di borgol dan berkata, “Aku lelah dengan seperti ini cepat lepaskan borgol ini.” Teman Moo Kyul itu justru membuat borgol yang satu lagi menempel di tangan Mae Ri. Mae Ri kaget, “Apa-apaan ini?” Teman Moo Kyul menjawab, “Maafkan aku tapi kalian butuh berbicara.” Teman Moo Kyul yang lainnya pun ikut berkomentar, “Ya. Kalian perlu waktu bersama agar menyelesaikan masalah ini.” Teman Moo Kyul berkomentar kembali, “Kami akan membukakan borgol itu saat acara audisi band nanti. Sampai jumpa….” Teman-teman Moo Kyul langsung pergi dan itu membuat Moo Kyul dan Mae Ri sama-sama panik.

Moo Kyul dan Mae Ri berlari mengejar teman-teman Moo Kyul namun teman Moo Kyul itu sudah pergi jauh. Moo Kyul berkata, “Sudahlah nanti juga mereka akan melepaskan borgol ini.” Mae Ri yang panik langsung berkata, “Tidak bisa! Ada suatu hal penting yang harus kulakukan hari ini.” Moo Kyul bertanya, “Apa itu?” Mae Ri membuka mantelnya dan Moo Kyul kaget melihatnya, “Apa? Kau akan menikah?” Mae Ri tidak menjawabnya.
Jung In mendatangi apartemen Seo Joon dan bertanya pada Seo Joon, “Kenapa kau keluar drai drama ini secara tiba-tiba?” Seo Joon menjawab, “Sudah kukatakan di awal kontrak. Jika aku merasa tidak nyaman maka aku akan keluar dan aku kini merasa tidak nyaman. Aku sudah menunggu lama jadi kurasa tidak akan ada masalah dengan kontrak itu.” Jung In menjawab, “Ya. Tapi aku membutuhkanmu Seo Joon untuk drama ini.” Seo Joon tertawa mendengar itu, “Itu hanya akan menganggu. Aku butuh waktu untuk beristirahat.” Jung In bertanya, “Apakah semua ini karena rumor yang beredar?” Seo Joon menjawab dengan marah, “Sudah kukatakan bahwa aku tidak peduli.” Seo Joon meminta Jung In segera pergi dan dia masuk kedalam kamarnya.
Jung In berjalan menuju pintu keluar namun dia terdiam sesaat dan melihat ke arah pintu kamar Seo Joon yang tertutup.
Moo Kyul dan Mae Ri pulang ke rumah Moo Kyul dan mereka menelfon teman Moo Kyul namun tidak ada satupun yang mengangkat telfonnya. Moo Kyul berkata, “Sepertinya mereka sudah merencanakannya. Jam berapa acara tunanganmu itu?” Mae Ri menjawab, “Jam 7 malam ini.” Moo Kyul melihat jam dan berkomentar, “Sekarang belum jam 12, jadi kita memiliki waktu yang panjang.” Mae Ri berkata, “Tapi ada tempat yang harus kudatangi bersama Jung In. Dia akan menelfon secepatnya.”
Moo Kyul mengacak-ngacak rambutnya sendiri dan berkata, “Ini benar-benar menyebalkan. Ah aku perlu mencuci rambutku.” Mae Ri bertanya, “Kenapa kau harus mencucinya sekarang?” Moo Kyul menjawab, “Semalam aku sibuk membuat music dan hari ini aku akan bertemu dengan orang yang akan mengaudisi band. Lihatlah bukan kah rambutku sangat kotor? Apakah tercium wanginya?” Mae Ri langsung menghindar untuk dekat-dekat dengan rambut Moo Kyul.
Akhirnya Moo Kyul pun keramas dengan di bantu oleh Mae Ri. Mae Ri berkomentar, “Kenapa aku selalu mendapatkan nasib buruk setiap bertemu denganmu?” Moo Kyul berkomentar, “Hey aku juga bertanya seperti itu. Aku selalu merasa lebih damai setiap tidak melihatmu.” Mae Ri kesal dan berkata, “Itulah sebabnya kita tidak harus bertemu kembali!” Moo Kyul ikut kesal dan mengusir Mae Ri, “Kau pergilah. Ambilkan kondisioner di luar.” Mae Ri berjalan menuju pintu keluar namun dia baru ingat bahwa tangan mereka terborgol sehingga Moo Kyul pun ikut tertarik dan terjatuh.

Jung In menunggu di depan kamar mandi Seo Joon dan tidak terdengar suara apapun dari dalam, yang terdengar hanya suara air. Jung In khawatir akan terjadi sesuatu makanya dia masuk kedalam kamar mandi Seo Joon dan dia kaget saat melihat Seo Joon yang teruduk di bawah shower sambil menangis.
Jung In menenangkan Seo Joon dan memberikan handuk padanya. Jung In duduk di samping Seo Joon dan berkata, “Jika kau membuat dirimu sendiri depresi akan hal ini, maka rumor itu akan semakin berkembang dan menjadi nyata.” Seo Joon bertanya, “Apa yang kulakukan itu salah?” Jung In menjawab, “Tidak. kau tidak melakukan hal yang salah.” Seo Joon kembali bertanya, “Lalu mengapa orang-orang begitu membenciku?” Jung In menjawab, “Karena mereka hanya percaya dengan apa yang ingin mereka percayai. Jadi jangan terpengaruh dengan itu. Kau harus lebih kuat. Kau hanya mencoba melindungi keluargamu, itulah mengapa kau merasa seperti ini kan?” Seo Joon menatap Jung In dan terdiam.
Moo Kyul dan Mae Ri pergi ke sebuah restaurant dan hanya Moo Kyul yang makan. Mae Ri berkata, “Cepatlah. Kita harus segera bertemu dengan orang yang bisa membuka borgol ini.” Moo Kyul berkomentar, “Benda ini sangat sulit untuk di buka.” Mae Ri panik, “Bagaimana ini? Aku tidak bisa menunggu hingga jam 5!!”
HP Mae Ri berbunyi dan itu telfon dari Jung In. Jung In bertanya, “Kau dimana?” Mae Ri menjawab, “Ah aku sedang makan siang.” Jung In berkata, “Oh. Ah sesuatu yang penting datang dan aku takut kita tidak memiliki banyak waktu ke pemakaman ibumu.” Mae Ri berkata, “Ah tidak apa-apa. Tapi ada masalah apa? Sepertinya sangat serius.” Jung In menjawab, “Aku sedang bersama Seo Joon karena masalah rumor yang beredar.” Mae Ri bertanya, “Apakah Seo Joon baik-baik aja?” Saat mendnegar nama Seo Joon di sebutkan Moo Kyul langsung menoleh melihat Mae Ri. Mae Ri melanjutkan kata-katanya pada Jung In, “Kalau begitu fokuslah pada pekerjaanmu dan tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa pergi kesana sendiri.” Jung In berkata, “Maafkan aku. Jaga dirimu dan aku akan segera menelfonmu kembali.” Mae Ri lalu menutup telfonnya.
Mae Ri berkomentar, “Ah melegakan.” Moo Kyul bertanya, “Dia sedang bersama Joonie? Ada apa?” Mae Ri menjawab, “Ada rumor mengenai Seo Joon. Kau harus mengirimkan sms pada mantan pacarmu itu untuk memberikan semangat. Tunjukan kesetiaanmu!” Moo Kyul dengan cepat mengeluarkan HPnya dan dia bertanya, “Jadi mereka berdua sedang bersama? Apa kau baik-baik saja?” Mae Ri menjawab, “Tidak apa-apa. Mereka dalam satu pekerjaan. Kau sudah makannya? Ayo cepat pergi.” Moo Kyul bertanya, “Kemana? Aku harus pulang ke rumah untuk tidur dan nanti bertemu dengan ibuku.” Mae Ri berkata, “Ya aku juga memiliki kepentingan, apa kau tau itu?” Moo Kyul mengeluh, “Kemana? Aish benar-benar menyebalkan.”

Ternyata tempat yang dituju oleh mereka adalah tempat pemakaman Ibu Mae Ri. Mae Ri datang kesana dan memberikan rangkaian bunga di depan foto ibunya. Mae Ri berkata pada foto ibunya, “Ibu sudah lama tidak bertemu.” Moo Kyul mendekatkan wajahnya pada foto Ibu Mae Ri, “Wow kau benar-benar mirip dengan Ibumu. Dan dia terlihat sangat charming. Wow cantik alami.” Mae Ri berkata, “Aku butuh bicara denagn ibuku, tutup kupingmu dengan earsphone itu.” Moo Kyul pun menutupi kupingnya dengan earsphone agar tidak mendengar pembicaraan Mae Ri dengan Ibunya Mae Ri.
Mae Ri berkata, “Ibu… Aku akan bertunangan hari ini. Itulah sebabnya aku ingin datang kemari untuk memperlihatkan pakaianku ini. Aku harusnya datang bersama tunanganku, tenang saja tunanganku bukan orang di sebelahku ini. Jadi jangan salah paham. Kau tau Ibu, aku hanya ingin menemukan cinta yang seperti Ayah dan Ibu miliki. Kalian bahkan kabur pada saat tengah malam karena Kakek tidak merestui. Tapi aku justru berakhir seperti ini. Walaupun aku tidak mencintainya, dia bukan orang yang buruk dan Ayah sangat menyukainya. Jadi Ibu aku akan mencoba yang terbaik untuk hidupku. Sangat menyenangkan bisa berdiri di depanmu besama orang yang aku cintai.” Moo Kyul tiba-tiba menatap Mae Ri yang menangis.
Moo Kyul menyelimuti Mae Ri dengan mantelnya dan berkata, “Ah aku khawatir kau akan kedinginan. Tenang aku tidak mendengar apa-apa jadi lanjutkan saja.” Mae Ri masih terus menangis sementara Moo Kyul menatap Mae Ri salah tingkah. (Hmm kayanya Moo Kyul denger kata-kata Mae Ri deh.)
Saat di perjalanan pulang ke rumah menggunakan bis, Mae Ri berkata, “Saat kecil. Aku selalu berharap Ibuku datang saat hujan turun. Saat anak-anak lain berjalan di bawah payung dengan menggandeng tangan Ibunya, aku harus berada di kelas menunggu Ayahku. Ayah bilang bahwa dia merasa sedih saat melihatku pulang dengan berjalan di bawah hujan jadi Ayah selalu memintaku menunggunya dan aku pun akhirnya menunggu di kelas.”
Moo Kyul bertanya, “Kenapa kau menunggunya? Kau kan bisa berlari di bawah hujan menuju rumah.” Mae Ri balik bertanya, “Apakah tidak ada orang yang membawakan payung ketika hujan untukmu?” Moo Kyul menjawab, “Ibuku selalu bekerja jadi aku tinggal di rumah relasi Ibuku.” Mae Ri kembali bertanya, “Lalu kapan kau mulai tinggal bersama Ibumu?” Moo Kyul menjawab, “Saat kami berusaha tinggal bersama maka selalu saja ada kesulitan. Aku pernah tinggal bersamanya namun pada akhirnya aku kembali tinggal dengan seorang relasi. Jadi bisa dibilang bahwa kami tidak pernah tinggal bersama.”
Mae Ri bertanya, “Jadi kau tidak memiliki kenangan apapun dengan Ibumu?” Moo Kyul memikirkannya, “Hmm kenangan? Ah ada satu. Saat di Sauna. Karena aku hanya memiliki Ibu maka Ibuku selalu mengajakku ke tempat sauna khusus wanita.” Mae Ri tertawa dan berkomentar, “Karena aku hanya memiliki Ayah maka Ayahku selalu mengajakku ke tempat sauna khusus laki-laki.” Moo Kyul ikut tertawa dan bertanya, “Hey bukankah itu hal yang memalukan?” Mae Ri menjawab, “Ya. Bahkan aku takut bertemu teman laki-laki di sekolahku.” Moo Kyul berkomentar, “Aku selalu menutupi tubuhku saat masuk kedalam sauna saat aku berusia 8 tahun sehingga orang-orang mengiraku perempuan.”
Ibu Moo Kyul menelfon dan Moo Kyul pun langsung mengangkat telfonnya, “Ah Ibu, baru saja kami membicarakanmu. Jam berapa kau akan datang? Apa yang ingin kau bicarakan?”
Moo Kyul pulang ke rumah dan mengobrol dengan Ibunya. Karena borgol itu belum terlepas sehingga Mae Ri terpaksa memasangkan earphones agar tidak mendengarkan pembicaraan Moo Kyul dan Ibunya.
Moo Kyul bertanya, “Jadi kau akan pindah ke Paris?” Ibu Moo Kyul mengangguk dan menjelaskan, “Hm ya. Kami selalu putus namun kembali berbaikan. Aku lelah. Jadi sepertinya harus ada salah satu dari kami yang meninggalkan Korea agar kami bisa hidup sendiri-sendiri dan bertahan.” Moo Kyul berkomentar, “Kua mengatakan ini seperti akan menikah saja.” Ibu Moo Kyul berkata, “Tidak. Aku tidak sepertimu. Aku hanya tidak ingin sakit hati.” Moo Kyul bertanya, “Jadi?” Ibu Moo Kyul menjawab, “Aku pikir ini jalan yang terbaik jika aku pergi. Karena jarak kita menjadi dekat maka aku selalu bergantung padamu dan menyusahkanmu.”
Moo Kyul tiba-tiba saja berdiri dan marah-marah. Mae Ri yang tidak tau apa-apa pun ikt berdiri karena Moo Kyul berdiri. Mae Ri dengan cepat berkata, “Tenang aku tidak mendnegar apa-apa. Sungguh.” Moo Kyul pun kembali duduk dan Mae Ri ikut duduk. Ibu Moo Kyul memanggil Mae Ri namun Mae Ri tidak mendengarnay sehingga Moo Kyul menarik tangan Mae Ri dan Mae Ri melepaskan earphonenya, “Ada apa?” Ibu Moo Kyul berkata, “Karena kau adalah orang yang setia maka aku menitipkan Moo Kyul padamu. Aku akan pindah dalam bulan ini.” Moo Kyul kembali marah, “Kenapa kau mengatakan hal ini padanya?” Moo Kyul pegri keluar dan otomatis Mae Ri ikut pergi keluar.

Moo Kyul berjalan dengan cepat dan Mae Ri pun terpaksa mengikutinya terus. Moo Kyul berhenti berjalan dan menelfon teman bandnya, “Dimana kau? Kenapa tidak mengangkat telfonku? Apa kau sudah menyiapkan untuk audisi hah? Sekarang juga bertemu di depan club!!” Moo Kyul langsung menutup telfonnya dan mengajak Mae Ri pergi namun Mae Ri justru menahan Moo Kyul dan memberikan Moo Kyul sayuran, “Ini hadiah.” Moo Kyul ingat bahwa dia juga pernah memberikan sayuran itu pada saat pertama bertemu Mae Ri dan itu membuat dia tertawa. Mae Ri berkomentar, “Jangan marah.” Moo Kyul tertawa dan mengajak Mae Ri pergi.
Ayah Mae Ri pergi ke salon untuk merapihkan rambutnya bersama dengan Tuan Jung. Ayah Mae Ri berkata, “Hyung, apakah kau percaya bahwa kita akan menjadi keluarga hari ini?” Tuan Jung berkata, “Ya akhirnya hari ini datang.” Ayah Mae Ri mengambil HPnya dan berkata, “Tepatnya 2 jam 35 menit laki kita akan menjadi keluarga.” Tuan Jung berkata, “Jika kau sudah selesai maka segera temui aku.”
Ayah Mae Ri sudah selesai menata rambutnya dan menghampiri Tuan Jung. Ayah Mae Ri berkata, “Hyung kita berdua sama-sama tumbuh dengan kesepian. Kita sama-sama kehilangan orang tua kita saat masih kecil. Aku masih ingat betapa cemburunya kita pada setiap keluarga yang pergi berlibur bersama. Dan yang paling aku iri-kan adalah mobil-mobil itu yang penuh dengan anak-anak bersama keluarganya yang kembali ke rumah mereka untuk berlibur bersama. Itulah sebabnya aku sungguh ingin memiliki banyak anak saat aku menikah.” Tuan Jung iku tersenyum dan berkomentar, “Ya aku merasakan hal itu juga.”
Ayah Mae Ri berkata, “Pada akhirnya kita membesarkan kedua anak kita dengan cara kita masing-masing. Ini semua karena tragedi ini dan kau bercerai dengan istrimu. Aku tidak akan membicarkan hal itu terjadi pada Mae Ri tapi kau telah membesarkan Jung In dengan sangat baik.” Tuan Jung berkata, “Tapi aku belum pernah membuat anak itu benar-benar gembira.” Ayah Mae Ri penasaran akan satu hal dan dia pun menanyakannya pada Tuan Jung, “Ah aku penasaran akan satu hal, Menagapa kau begitu keras pada Jung In?” Tuan Jung menatap Ayah Mae Ri dan tidak menjawabnya.
Jung In bermain gitar di depan Seo Joon. Seo Joon mulai bercerita, “Sejak aku memulai karirku menjadi artis, aku menjauh dari keluargaku. Kakekku seorang pekerja kantor, dan Ayahku seorang Dokter. Saudara laki-lakiku seorang pengacara dan saudara perempuanku seorang dokter. Satu hal yang akan membuat mereka mengakuiku adalah pernikahan.”
Tiba-tiba tangan Jung In berhenti bermain gitar karena luka di tangannya kembali terasa sakit. Seo Joon bertanya, “Ada apa?” Jung In menutupi telapak tangannya dan berkata, “Tidak apa-apa. Ini terjadi sudah lama.” Seo Joon melihat telapak tangan Jung In dan kaget saat melihat ada luka sayatan, “Apa kau melakukannya ini pada dirimu sendiri?” Jung In terdiam sesaat dan menjawab, “Ya.” Seo Joon kembali kaget mendengar pengakuan itu.
Kini giliran Jung In yang bercerita, “Saat aku sekolah di luar negeri,gitar adalah satu-satunya temanku. Tetapi Ayahku meminta agar aku tidak memainkannya kembali. Dia bilang bahwa music bisa meluapkan emosimu namun juga bisa membuat dirimu lemah. Dan aku pun akhirnya mengikuti permintaan Ayahku. Tapi aku mulai merasa depresi dan akhirnya aku melakukan hal yang membuatku tidak bisa bermain gitar kembali. Itulah sebabnya aku pikir kau sungguh luar biasa. Walaupun ornag tuamu tidak mengizinkanmu mengambil jalan ini namun kau tetap bertahan untuk mengikuti apa mimpimu.” Jung In tersenyum pada Seo Joon sementara Seo Joon hanya terdiam.
Moo Kyul dan Teman bandnya pun bertemu untuk audisi band. Produser band itu melihat Mae Ri yang bersembunyi di belakang Moo Kyul dan dia bertanya, “Mengapa kau membawa pacarmu hah? Bagaimana aku bisa menilah penampilan kalian?” Tmena Moo Kyul menjawab, “Ah maaf aku lupa membawa kunci borgol itu.” Tapi teman Moo Kyul yang satu lagi berkata, “Ini adalah gaya baru dari kami.” Moo Kyul berbisik pada Mae Ri, “Kau ikut menari saja mengikuti irama music.” Tentu saja Mae Ri langsung menolaknya karena dia tidak bisa menari.
Lagu di mulai dan Moo Kyul merasa kesulitan karena tangannya merasa tidak bebas untuk memegang gitarnya. Akhirnya Mae Ri memberanikan diri menari di atas panggung mengikuti irama musicnya. Produser Music yang melihat itu pun tertawa. Teman-teman band Moo Kyul juga ikut tertawa melihat tingkah Mae Ri.

Mereka sudah selesai audisi dan saat di cari kunci borgol itu ternyata kunci borgol itu hilang. Moo Kyul kesal dan langsung mengomel, “Apa-apaan ini? Apakah kalian sedang mencoba bercanda denganku?” Sementara itu Mae Ri juga ikut panik karena dia harus segera datang pada acara pertunangannya.
Mae Ri menelfon Jung In, “Apa kau sudah pergi? Aku maish berada di HongDae.” Jung In bertanya, “Sedang apa kau disana?” Mae Ri menjawab “Ah ada suatu masalah kecil, aku akan menjelaskannya nanti padamu.” Jung In berkata, “Aku mendapat telfon dari Ayahku. Nanti aku akan segera menelfonmu saat aku sudah datang ke daerah HongDae.” Mae Ri berkata, “Maafkan aku.” Lalu dia menutup telfonnya dan melihat Moo Kyul yang sedang marah pada teman-temannya itu.
Jung In sedang bersama dengan Seo Joon di dalam mobil dan Jung In bertanya, “Apakah kau sudah merasa lebih baik?” Seo Joon mengangguk dan tersenyum. Seo Joon lalu bertanya, “Kau akan pergi kemana setelah mengantarku ke Hong Dae?” Jung In menjawab, “Hmm sebenarnya aku ada acara tunanganku.” Seo Joon kaget mendnegarnya, “Pertunanganmu? Jadi sekarang kau dalam perjalanan menjemput tunanganmu itu?” Jung In menjawab, “Ya.” Seo Joon jadi merasa bersalah mendengar hal itu, “Ah aku seharian ini bersamamu karena tidak mengetahui hal ini. Maaf.” Jung In berkomentar, “Tidak apa-apa. Ini juga sama pentingnya.”
Seo Joon berkata, “Aku iri pada tunaganmu walaupun aku tidak tau siapa dia dan aku sangat penasaran dengan tuanganmu itu.” Jung In berkomentar, “Aku akan memperkenalkannya secara formal padamu setelah pertunangan ini.” Seo Joon tersenyum mendengar itu.
Moo Kyul mencoba membuka borgol itu dengan obeng namun tidak bisa terbuka juga. Mae Ri berkata, “Cepatlah ini sudah lebih dari satu jam dan Jung In akan segera menjemputku.” Moo Kyul mengomel, “Aku sudah mencoba sebisaku. Apa kau begitu depresi dengan pertunanganmu ini?” Mae Ri berkata, “Apa kau pikir aku bertuangan karena aku yang mau? Aku melakukan ini untuk memegang kata-kata yang telah aku ucapkan.”
Moo Kyul menyerah membuka borgol itu dan mengeluh. Mae Ri bergumam, “Huh ini semua karenamu.” Moo Kyul berkata, “Karenaku? Apa karena aku bukan orang yang beruntung?” Mae Ri berkata, “Hey kapan aku mengatakan hal itu padamu?” Moo Kyul menjawab, “Setiap bersamaku kau selalu mendapat masalah, itu kau yang bilang.” Mae Ri berkata, “Kau juga bilang begitu. Bukankah itu artinya aku juga orang yang tidak beruntung?? Seharusnya kau berfikir bahwa kau adalah laki-laki yang beruntung. Kau memiliki penampilan yang baik dan talenta di bidang musik, jadi kau bisa di katakan beruntung.” Moo Kyul hanya tertawa dan bergumam, “Huh apa-apaan ini.”

Moo Kyul tiba-tiba bertanya, “Apakah kau pernah berfikir menyukaiku?” Mae Ri kaget, “Kenapa kau bertanya secara tiba-tiba?” Moo Kyul menjawab, “Hmm aku bertanya seperti ini karena kontrak kita sudah berkahir dan kau akan segera bertunangan. Dan terkadang aku merasa ada perasaan padamu.” Mae Ri kembali kaget mendengarnya, “Tapi kau selalu bilang bahwa kau tidak pernah melihatku sebagai seorang wanita.” Moo Kyul berkata, “Hmm aku melihatmu sebagai… Entahlah.” Mae Ri bertanya, “Kapan kau merasakan hal itu?” Moo Kyul menjawab, “Saat aku sedang makan es krim di taman dan Ibuku tiba-tiba pergi. Kau ingat itu?” Mae Ri mengangguk, “Ya aku ingat.”
Moo Kyul berkata, “Pada saat itu aku merasa sedikit sedih dan menunggu kau kembali. Tapi saat kau kembali dengan laki-laki itu, perasaan itu hilang begitu saja.” Mae Ri terdiam mendengar kata-kata itu. HP Moo Kyul berbunyi dan itu telfon dari teman Moo Kyul yang sudah menemukan kunci borgol itu.
Moo Kyul dan Mae Ri pun berjalan keluar bersama menuju tempat teman-temannya Moo Kyul. Di sepanjang perjalanan Moo Kyul berkata, “Ayo cepat sudah semakin malam. Huh setelah kau bilang bahwa kau akan menikah dengan seseorang yang kau cintai, bahkan membuatku ikut campur dalam pernikahan palsu ini, tapi pada akhirnya kau tetap menikah dengan laki-laki itu Wi Mae Ri.” Mae Ri berkata, “Hentikan itu.” Moo Kyul melihat Mae Ri dan berkata, “Hey mengapa wajahmu seperti yang akan menangis?” Mae Ri kesal, “Kapan aku terlihat seperti ingin menangis hah?”
Moo Kyul terdiam sesaat lalu bertanya, “Apa kau mencintai laki-laki itu?” Mae Ri menajwab, “Entahlah. Aku tidak tau sekarang, bahkan aku tidak tau apa itu cinta.” Moo Kyul tertawa, “Ya benar. Bagaimana mungkin seseorang yang bahkan belum pernah berkencan bisa mengerti apa yang di maksud dengan cinta.” Mae Ri kesal mendengarnya, “Aku pikir kau juga tidak mengeti apa itu cinta. Apa kau pikir dengan mengencanI perempuan kurang dari seBulan adalah hal yang membanggakan? Itu adalah penyakit!!” Moo Kyul kaget, “Apa maksudmu? Penyakit apa?” Mae Ri menjawab, “Y aitu adalah penyakit! Kalau bukan sebuah penyakit berarti kau takut untuk membuat sebuah komitmen!”
Moo Kyul menatap Mae Ri dan bertanya, “Apa yang kau ketahui tantangku hah?” Mae Ri balas bertanya, “Kenapa aku harus mengetahui tentang kamu? Aku hanya melakukan pernikahan palsu denganmu selama 50 hari. Dan kau sebaiknya cepat obati penyakitmu itu atau kau tidak akan menemukan cinta sejatimu!” Moo Kyul kesal dan membentak Mae Ri, “Siapa kau hah hingga mengatakan hal itu padaku? Apakah kau pantas berbicara seperti itu padaku padahal kau akan menikah dengan seseorang yang kau tidak cintai?” Mae Ri ikut kesal dan berkata, “Sudah lupakan saja!”
Tiba-tiba ada 3 orang pelajar yang berteriak senang saat bertemu dengan Moo Kyul. Mereka melihat tangan Moo Kyul dan Mae Ri yang di borgol dan mulai bertanya, “Apa-apaan ini? Kau memiliki pacar?” Mae Ri panik, “Ah bukan seperti itu…” Para pelajar itu terus bertanya, “Lalu seperti apa hah hubunga kalian? Siapa namamu?” Mae Ri menjawab, “Oh aku Wi Mae Ri.” Moo Kyul ikut panik dan langsung berteriak pada Mae Ri, “Lari!!” Moo Kyul menarik Mae Ri untuk berlari dan para pelajar itu langsung mengikutinya dari belakang.
Di tempat pertuangan, Ayah Mae Ri dan Tuan Jung sedang mengobrol bersama. Ayah Mae Ri berkomentar, “Pasti sulit bagimu dan Jung In untuk tinggal sendirian selama lebih dari 20 tahun. Tapi hidupmu tidak akan sepi lagi karena akan ada Mae Ri.” Tuan Jung tersenyum ,”Ya benar. Aku sudah menunggu hal seperti ini sejak lama.” Ayah Mae Ri lalu menunduk sedih, “Aku berharap Ibu Mae Ri dapat ada disini juga dalam hari bahagia ini.” Tuan Jung berkomentar, “Ya kau benar.” Ayah Mae Ri lalu bertanya, “Acara seharusnya segera dimulai. Kemana dua anak ini?” Tuan Jung berkata, “Telfonlah.” Ayah Mae Ri pun cepat-cepat mengeluarkan HPnya menghubungi Jung In.
Jung In menerima telfon dari Ayah Mae Ri saat dia mengantarkan Seo Joon ke rumah Moo Kyul. Ayah Mae Ri bertanya, “Menantu Jung In kau ada dimana? Apa kalian sudah di jalan menuju kemari?” Jung In menjawab, “Ya.” Telfon ditutup dan Seo Joon pun keluar dari mobil Jung In menuju rumah Moo Kyul. Jung In pun lalu menelfon Mae Ri namun Mae Ri tidak juga mengangkat telfonnya. Tiba-tiba Seo Joon kembali menghampiri Jung In, “Bisa aku pinjam HPmu? HPku mati habis batrai.” Jung In pun langsung meminjamkan HPnya pada Seo Joon dan menunggu di luar mobil.
Sementara itu Moo Kyul dan Mae Ri sama-sama sedang berlari menghindari para pelajar yang terus mengejarnya.

Seo Joon terus menelfon Moo Kyul namun tidak diangkat juga. Seo Joon melihat daftar panggilan keluar dari HP Jung In dan dia kaget saat melihat banyak panggilan ke nomor Wi Mae Ri. Seo Joon melihat ke arah Jung In yang terlihat gelisah lalu dia sengaja menelfon Mae Ri dengan HP Jung In. Dan Seo Joon pun semakin kaget saat melihat ada foto Mae Ri dan Jung In yang memakai baju untuk pertunangan mereka berudua. Jung In tiba-tiba menghampiri Seo Joon dan bertanya, “Kau sudah selesai?” Seo Joon tidak menjawab dan menatap Jung In kaget.
Moo Kyul menarik Mae Ri ke sebuah gang sempit untuk menghindari para pelajar yang terus mengejar mereka. Tiba-tiba saja Mae Ri tertawa dan Moo Kyul pun ikut tertawa, “Haha bodoh sekali kita di kejar sama anak SMA.” Para pelajar itu berlari ke dekat gang dan Moo Kyul cepat-cepat memeluk Mae Ri untuk menutupi Mae Ri. Untungnya para pelajar itu tidak menyadari mereka berdua sehingga para pelajar itu pergi mengejar ke arah lain.
Setelah di rasa aman, Moo Kyul melepaskan pelukannya dan Mae Ri terlihat shock di peluk secara tiba-tiba begitu. Moo Kyul menatap Mae Ri dalam dan mendekat untuk menciumnya namun Mae Ri langsung menghindar dan berkata, “Kau playboy!” Moo Kyul kaget mendengarnya, “Apa?” Mae Ri berkata, “Kau… pada saat itu kau benar-benar merasa hatiku seperti akan meledak.” Moo Kyul kaget mendengarnya, “Jadi kau pada saat itu…” Mae Ri mulai menangis dan memukuli dada Moo Kyul,”Ciuman itu seharusnya dilakukan dengan seseorang yang di cintai. Tapi kau merusak hal itu! Dasar brengsek!” Moo Kyul menahan tangan Mae Ri dan memanggil namanya lembut, “Mae Ri yah…”

Mae Ri berhenti memukul dan berkata, “Kau bilang bahwa kau tidak melihatku seperti seorang wanita.” Moo Kyul balas berkata, “Kau juga bilang bahwa kau tidak melihatku seperti seorang laki-laki.” Mae Ri terdiam sesaat menatap Moo Kyul lalu dia berkata pelan, “Kau bilang aku tidak boleh jatuh cinta padamu.” Moo Kyul kembali berkata, “Kau juga bilang bahwa kau tidak menyukaiku.” Keduanya sama-sama terdiam mendengar pengakuan masing-masing. Moo Kyul langsung mendekat pada Mae Ri dan menciumnya, kali ini Mae Ri tidak menolaknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s